ALANGKAH LUCUNYA JAKARTA

Teringat akan sebuah film apik besutan Dedi Mizwar berjudul Alangkah Lucunya Negeri Ini, sebuah film yang menampilkan perwajahan asli Indonesia dari sebuah sudut yang jarang dilirik oleh orang kebanyakan. Kemiskinan, kriminalitas, ketidakmerataan pendidikan, hingga ketidakadilan hukum yang berlaku di negeri ini adalah beberapa aspek yang menonjol nampak dalam film yang juga dibintangi oleh Dedi Mizwar.

Lekat pada nama Indonesia adalah Jakarta. Ibarat jantung dalam tubuh Indonesia, Jakarta menjadi mother of country di negara ini. Kutub magnet segala aktivitas negeri berporos di Jakarta. Di Jakarta-lah kepala negara bertlatah, mengatur dan memantau segala hajat hidup masyarakatnya. Jakarta juga menyandang gelar kota terpadat di Indonesia. Tanah sempit yang tersisa masih saja menyedot ribuan urban untuk datang setiap tahunnya. Gedung-gedung sederhana sampai mewah tidak terhingga banyaknya. Pun rumah-rumah bilik dan kardus turut meramaikan Jakarta, sang ibu kota.

Alangkah lucunya Jakarta. Segala yang ada di sini hanya akan membuat Anda terbingung heran. Remisi bagi para koruptor ibu kota sudah lumrah adanya. Ada saja alasannya. Bahwa ini tidak melanggar hukum pidana-lah, bahwa itu hanya masalah administrasi-lah. Begitulah model berbalas budi di Jakarta, tabiat kasih sayang yang berbalut kepentingan dan kecurangan.Tak heran bila kota-kota lain di tanah air pun turut mengekor dia, sang ibu kota. Slogan antikorupsi pun hanya tinggal slogan belaka.

Di Jakarta memang segala macam benda mudah didapatkan. Dari rokok yang hingga kini masih berkeliaran di tempat umum, hingga narkoba yang anak sekolah dasar pun turut menjadi korbannya. Tulisan demi tulisan terpampang di pinggir jalan urung membawa guna, lantaran pemerintahnya tiada daya melarangnya. Tidak dengan cara lugas, secara tegas tanpa syarat. Devisa negara berkurang, atau alasan lain menjadi topeng itu semua.

Jakarta, memang indah tampilannya. Bangunan elit yang berjajar, mobil mewah yang berseliweran tiap detiknya, adalah pemandangan yang membuat decak kagum siapa saja. Namun di belakang itu semua, sampah menumpuk bahkan menggunung. Di sungai-sungai, mereka mengapung dan menyumbat salurannya hingga menyebabkan banjir jadi langganan setia. Di jalanan, mereka berceceran tak karuan entah siapa yang membuang dengan tanpa tanggung jawab. Alasan konyolnya, “Ah, kan untuk menambah penghasilan dan pekerjaan para petugas penyapu jalan. Kalau tidak ada sampah, mereka tidak bisa bekerja dong!”. Sungguh, tiada berpendidikan kalimatnya.

Begitulah kisah tentang Jakarta yang sungguh lucu adanya. Dan kini aku dan kamu menjadi bagian darinya. Akan seperti apakah kisah ini kita bawa alur dan akhirnya?

 

291112

Di Jakarta bagian selatan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s