Ayahku (Bukan) Pembohong

Penulis : Tere Liye

Tahun   : 2011

Penerbit : Kompas Gramedia

Di dunia ini sangat mudah kita temukan kisah tentang ibu. Tere Liye menghadirkan dengan manis sebuah karya fiksi tentang lelaki nomor satu dalam kehidupan kita, ayah.

Ayah merupakan sosok yang menurut saya jarang diekspos ke media. Sosok ayah lebih sering digambarkan sebagai sosok lelaki yang seharinya membaca koran dan bekerja mencari uang, setidaknya ini adalah gambaran yang lama terendap di pemikiran saya saat kecil. Kita lebih diakrabkan oleh sosok ibu dengan perannya melahirkan dan mendidik kita. Padahal, peran ayah dalam kehidupan kita tak kalah luar biasanya.

Dalam novel ini, penulis mengangkat tokoh Dam sebagai seorang anak yang tumbuh dengan nilai-nilai luhur melalui dongeng yang sering dibawakan ayahnya. Kisah yang dibawakan ayahnya memang sangat kental akan fiksi yang agak berlebihan jika benar itu hal nyata.

Dam kecil tumbuh dengan penuh semangat juang, visioner, pantang menyerah, bekerja keras, sederhana, jujur, dan ringan tangan dalam membantu orang lain. Itu semua merupakan karakter bentukan dari dongeng yang hampir tiap hari dibawakan oleh sang ayah.

Namun, seperti yang saya paparkan sebelumnya, kisah yang dibawakan tokoh ayah pada Dam nampak seperti mengada-ada. Hal ini membawa kebencian pada diri Dam saat mengetahui bahwa dongeng itu hampir mustahil berisi kenyataan. Dam dewasa membenci sang ayah lantaran yang ia tahu ayahnya telah membohonginya.

Kisah ini berakhir mengharukan. Sang ayah akhirnya meninggal dunia dengan diiringi pembuktian bahwa apa yang selama ini ia ceritakan keseluruhannya adalah benar tanpa cela. Dam, tentu saja menyesal. Akhir kisah ini menyisakan semangat di benak saya sebagai pembaca. Semangat untuk senantiasa menebar kebaikan meski sederhana. Semangat untuk menjadi inspirasi dan semangat untuk menyayangi orang di sekitar termasuk keluarga.

“Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai. Maka tebarlah kebaikan di mana kau berada.” Nampaknya kalimat sederhana ini menjadi simpulan kecil novel Tere Liye ini.

Sangat sayang jika Anda hanya membaca ulasan sederhana saya ini tanpa membaca novel aslinya. Selamat membaca, berhikmah, dan menuai kebaikan. Membaca novel ini membuat saya membuka mata dan semakin menyayangi keluarga tercinta; ayah, ibu, kakak, dan adik-adik.

190212

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s