Beyond EDIWINDRA

Kakak, dua adik, dan saya memiliki kesamaan. Pada akhir nama kami tertera sebuah nama bertuliskan ‘Ediwindra’.

Awalnya, saat saya duduk di bangku sekolah dasar, dengan polos saya berbangga atas kesamaan nama Ediwindra itu untuk satu hal. Supaya mudah mencari saat kami hilang di mall. Hm, entah ini pemikiran dari mana saya pun tak tahu. Pikir saya waktu itu, untuk memudahkan memanggil kami yang terpencar, ayah atau ibu cukup memanggil kami dengan, “Ediwindra, ayo berkumpul..”

Ediwindra tentu memiliki makna. Ia merupakan blending dari nama ayah dan sedikit nama ibu. ‘Ediwin’ berasal dari ayah Edi Winarto, dan ‘dra’ dari kata dan Ratri.

Kakak, Endow Firza Ediwindra. Adik, Ahya Safetri Ediwindra dan Fathin Arbita Ediwindra. Saya, Sofistika Carevy Ediwindra. Karena ayah saya penyuka bahasa, jadilah nama kami berasal dari beberapa bahasa; Arab, Inggris, dan Jawa.

Sebagai contoh, Endow Firza. Endow merupakan sebuah kata dalam bahasa Inggris. Dimaknai oleh kedua orang tua saya sebagai pembawa berkah. Namun jika melihat di beberapa kamus, kata ‘endow’ berarti pemberi subsidi. Firza berasal dari kata ‘first’ bermakna anak pertama.

Ahya artinya hidup dalam bahasa Arab. Sepupu saya pernah berkelakar. “Wah, kalau Mba Ahya baca doa mau tidur berarti begini dong,’Bismika Allaahumma aku…’” Haha, benar juga. Itu kan memang nama dia. Tapi, mana mungkin mengubah doa begitu ya. Safetri berasal dari Inggris (safe) dan Jawa (tri).

Si kecil, Fathin Arbita Ediwindra. Fathin berarti cerdas (Arab). Sedang Arbita berasal dari ‘arba’ah’ yang artinya empat atau anak keempat.

Saya sendiri, Sofistika berasal dari kata ‘sophisticated’ berarti canggih. Hm, tapi pernah saya temui arti kata itu adalah ahli dalam hal duniawi. Arti leterlijk itu pernah membuat saya illfeel dengan nama saya sendiri, tapi itu tak berlangsung lama. Carevy berasal dari kata ‘careful’ artinya hati-hati. Nah, untuk nama saya ini saya pernah diprotes langsung malah oleh ibu. “Namanya Carevy kok malah sering jatuh?” Ya, dulu sebelum sekolah, saya sangat sering jatuh saat berjalan atau berlari yang sering membuahkan ‘benjut’ baik di jidat maupun lutut. “Tapi itu dulu, sekarang insya Allah tidak..”

Saya sering memprotes kedua orang tua, dulu, saat masa-masa saya ujian sekolah. Nama saya yang terlalu panjang sedikit membuat waktu ujian terpotong lantaran terlalu lama menulis di bagian nama. Yah, setidaknya ini menjadi pembelajaran untuk saya agar kelak tidak memberi nama anak saya terlalu panjang.

Protes kedua lebih kepada orang lain. Ya, walaupun bukan sepenuhnya salah mereka. Kebanyakan orang salah menuliskan nama saya, baik nama lengkap maupun nama panggilan. Nama panggilan saya, Revy, sering ditulia Refi atau Revi. Jiwa muda saya tentu sering memberontak mengetahui bahwa nama saya ditulis dalam ejaan yang salah. ‘Ini tidak bisa diterima!’

Tapi pun, saya tidak berbuat apa-apa selain membetulkan tulisan, jika ada kesempatan. Di balik itu semua, saya sangat bersyukur karena dalam nama saya terdapat doa dan pengharapan besar dari orang tua dan keluarga saya.

Memiliki nama Ediwindra, atau lebih tepatnya, menjadi bagian dari keluarga Ediwindra, adalah suatu kesyukuran luar biasa. Keluarga sederhana ini benar-benar merupakan harta berharga saya yang takkan mampu ditukar dengan dolar, dinar, apalagi rupiah berapapun. Tak salah kata Keluarga Cemara. Harta yang paling berharga adalah keluarga.

190212

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s