Kisah Nubuwah

Kabar Utsman terbunuh sangat menggemparkan. Baru tiga hari yang lalu sang panglima memerintahkannya untuk pergi ke Mekah. Misi Utsman untuk menyampaikan pada kaum Quraisy tentang maksud sang panglima ke Mekah nampaknya tak berbuah hasil.

Suasana benar-benar kalang kabut. Bahkan, dikabarkan pula kesepuluh orang yang bersama Utsman ke Mekah hendak bertemu keluarga di sana turut terbunuh pula. Benar-benar kejam! Belum cukup nampaknya melalui Ikrimah mereka menghalangi maksud kita yang tak ingin berperang ini. Aku sangat bersyukur. Saudaraku Khirasy tak jadi dibunuh oleh putra Abu Jahal itu. Perlindungan Allah benar-benar mahadahsyat.

Kami melihat sang panglima menuju ke persinggahan Bani Mazin bin Najjar. Beliau duduk di perkemahan mereka. Pastinya, kabar Utsman terbunuh telah beliau dengar. Sejurus kemudian, sebuah kalimat meluncur dari bibir beliau.

“Sesungguhnya Allah telah menyuruhku melakukan pembai’atan.”

Tegas, lugas.

Serentak, berbondong orang menuju ke arah beliau hendak berbai’at. Serentak, mereka semua mengangkat senjata meski ini senjata terakhir yang kami miliki. Meski sang panglima mengatakan bahwa ini bukanlah perang bersenjata, kami tetap akan menyandangnya.

Perkemahan ini penuh sesak. Barang-barang terinjak. Mereka menjadi saksi semangat kesigapan dan kesediaan kami untuk berjihad hingga menemui Rabb kami. Bahkan, Ummu Imarah, seorang wanita di kalangan kami, langsung menjerabut tiang penyangga tempatnya biasa berteduh menyambut seruan ini.

Gegap gempita mengangkasa di langit Madinah kali ini. Langit menghangat menyaksikan semangat kami untuk memasuki tanah Haram dan berthawaf di sana. Tak ada lagi penghalang. Kami memang sedikit, namun kami yakin menang. Bukankah telah Allah buktikan di Badar yang dahsyat? Bukankah telah Allah perlihatkan di Dzatur Riqa’ manakala kaum kafir itu lari ketakutan padahal mereka berjumlah besar?

Tak ada kemunafikan. Tak ada lagi pengkhianatan dalam bai’at ini. Kini hanya ada kesetiaan, pembelaan, dan keteguhan dari kami sang perindu syahid. Kami takkan berhenti hingga tanah Mekah berhasil kami masuki, untuk berthawaf pada sang Ilahi.

“Kami takkan berthawaf sebelum Rasulullah berthawaf,” ini tekad kami yang telah disampaikan pada kaum Quraisy melalui Abdullah bin Ubay dan Utsman. Dan akan kami semua genggam pula. Allahu Akbar!!!

Nyawa dibalas nyawa. Sang panglima pun pasti menuntut balas atas terbunuhnya salah seorang prajurit. Kami sangat bahagia dan bangga akan pembelaan beliau pada kami, jundi beliau. Maka tak ada kata lain selain, “Akan kami berikan, harta, jiwa, raga, darah, dan nyawa kami untuk membelamu, ya Rasul, sampai Allah menghendaki bertemu kami.”

#Hari menjelang perjanjian Hudaibiyah.

#Hari menjelang thawaf di Ka’bah, Baitullah

Kerinduan kami akan tanah Haram kian membuncah dari hari ke hari. Ini adalah impian kami bertahun lamanya. Seperti apa bentuk setiap sudut Masjid al Haram, masih sangat lekat dalam ingatan. Seperti apa rumah-rumah kami, sangat jelas rasanya dalam genggaman. Kapan? Sungguh, sampai kapan kami harus menanti waktu itu??

“Apa? Berdamai?” Ini mungkin adalah seruan wajar yang terlontar dari kami saat mengetahui keputusan sang panglima untuk melakukan perjanjian Hudaibiyah kepada mereka para kafir Quraisy.

Umar, sang singa Islam pun resah. Ditanyanya hal ini pada sang panglima. “Ya Rasulullah, bukankah kita ini orang-orang Islam?” tanyanya.

“Tentu,” jawab Rasul.

“Lalu, mengapakah kita memberi kehinaan dalam agama kita?”kata Umar memburu.

Dengan bijak sang panglima, Rasulullah saw. bersabda, “Aku adalah hamba Allah dan RasulNya. Aku takkan menyalahi perintahNya. Dia pun takkan menyia-nyiakan aku.”

Sebuah kalimat yang tiada siapa pun meragukan atas kebenarannya. Tak putus asa, Umar yang menjadi pentolan baik saat dia masih kafir ataupun sekarang saat Islam telah menyelimuti jiwanya, bergerak menuju sang sahabat mulia, Abu bakar.

“Hai Abu Bakar, bukankah kita ini orang-orang Islam?”

“Benar,” jawab Abu Bakar.

“Mengapakah kita memberikan kehinaan dalam agama kita?” Masih saja Umar menanyakan hal ini. Ia sangat terpukul dan tak percaya dengan keputusan diadakannya perjanjian dengan kaum kafir. ‘Kenapa tidak kita perangi saja mereka? haruskah kita rendahkan diri di hadapan mereka?’ Nampaknya pertanyaan ini yang tengah memenuhi hati sang Umar.

Abu Bakar kembali berucap pada sahabatnya yang tengah bimbang itu, “Patuhilah perintah dan larangannya. Karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa dia adalah Rasul Allah dan bahwa yang benar adalah apa yang dia perintahkan. Dia pun takkan menyalahi perintah Allah dan Allah pun takkan menyia-nyiakan dia.” Tegasnya kalimat itu terucap dari sang sahabat yang shidiq.

Umar masih sangat berat untuk memahami hal ini. Ia terus saja berulang kali menanyakan pada Rasul, kanapa, kenapa, dan kenapa. Kenapa harus ada perjanjian Hudaibiyah yang merugikan ini?

“Tidakkah engkau dengar, hai putra Khaththab! Perkataan Rasulullah tadi, sangatlah jelas. Berlindunglah kamu kepada Allah dari godaan setan dan jangan terlalu percaya pada pendapatmu!” Seruan ini bersumber dari Abu Ubaidah. Putra Jarrah ini menohok Umar. Sejurus kemudian, Umar mulai tenang dan menunduk memohon ampunan pada Allah Sang Haq.

Kaum muslimin, nampak masih berat di hati mereka untuk menyetujui keputusan ini. Betapa awalnya mereka teramat antusias menyandang senjata dan amat yakin akan segera memasuki tanah Haram. Mereka teramat bahagia akan mimpi sang panglima di mana beliau mencukur kepalanya dan memasuki Baitullah. Beliau menuturkan mimpinya pada kami bahwa beliau akan mengambil kunci Ka’bah dan berwukuf dengan sekalian kami.

Namun akhirnya, kami semua sepakat akan perjanjian ini. kami berkumpul untuk menyaksikan penulisan perjanjian Hudaubiyah ini.

Sementara hasil perundingan belum ditulis, datanglah Abu Jandal. Sempoyongan ia berjalan dengan tangan terbelenggu namun dengan pedang tersandang. Ia berhasil keluar dari sanderaan di Mekah. Putra Suhail ini kami sambut hangat kedatangannya. Kami peluk hangat tubuhnya. Salam dari kami berluncuran ke arahnya yang akhirnya dapat bergabung dengan kami. Bahkan sejak Abu Jandal menuruni bukit tadi, beberapa dari kami telah menyambutnya.

Suhail, ayah Abu Jandal yang menjadi delegasi kaum kafir Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah ini mengangkat kepalanya. Dilihatnya siapa sosok yang datang dan mendapat penghormatan sedemikian rupa itu. Demi melihat bahwa itu adalah anaknya, maka ia bangkit segera. Pitamnya naik. Mukanya memerah hingga padam.

Diambilnya oleh Suhail sebilah batang berduri. Dipukulkannya batang itu ke arah Abu Jandal, darah daginya. Kerah Abu Jandal ditariknya kasar. Suhail pukulkan berkali-kali batang itu ke arah anaknya.

Kami hanya sanggup menyaksikan dan tertegun dalam diam.

Dalam sakitnya oleh pukulan sang ayah, Abu Jandal berteriak, “Hai sekalian kaum muslimin! Haruskah aku dikembalikan kepada orang-orang musyrik itu, yang akan meneror aku mengenai agamaku?” Lantang ia teriakkan itu di tengah menahan deraan dari sang ayah.

Kami menangis. Tak ada yang dapat kami perbuat. Ini adalah momen sulit bagi kami.

Tergerak mendengar teriakan saudara kami, Abu Jandal, maka berkatalah Huwaithib bin Abdul Uzza kepada Mikraz bin Hafsh, “Saya sama sekali tak pernah melihat suatu kaum yang begitu tulus dalam mencintai orang-orang yang bergabung dengan mereka melebihi sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad dan terhadap sesama mereka. adapun yang benar-benar ingin saya tandaskan kepadamu ialah, sesungguhnya kita takkan mampu mempengaruhi Muhammad sesudah hari ini sampai dia berhasil memasuki kota Mekah dengan paksa.”

“Ya, saya sependapat denganmu, Huwaithib,” kata Mikraz menimpali.

“Inilah orang yang pertama-tama saya tuntut darimu sesuai perjanjian. Kembalikan dia pada kami!” Suhail bin Amr berseru ke arah Rasulullah. Ia masih tak menghentikan pukulannya ke arah anaknya.

“Sesungguhnya, kita belum menulis perjanjian,” demikian tukas Rasul.

“Demi Allah, sekali-kali aku takkan menulis perjanjian denganmu kalau dia tidak kamu kembalikan padaku,” ngotot Suhail berteriak ke arah Rasul.

Rasulullah pun mengembalikan Abu Jandal kepada ayahnya. Beliau berharap agar Suhail membebaskannya. Namun urung. Suhail tetap saja memukuli wajah dan tubuh anaknya. Demikianlah, telah nampak jelas batas antara keduanya meski darah mereka sama. Namun kecintaan Abu Jandal kepada Islam membuatnya benci dan menolak kembali pada kekafiran meski di sana ada ayah yang melahirkannya.

“Berikan dia pedaku atau jangan kau siksa lagi dia,” kata Rasul melihat Suhail urung berhenti menyiksa Abu Jandal.

“Demi Allah, aku tak sudi menuruti permintaanmu,” tegas Suhail menjawab. Ah, betapa keras hati yang belum tersentuh cahaya Allah itu.

Namun akhirnya, Mikraz dan Huwaithib membuka suara, “Ya Muhammad, kamilah yang yang akan melindunginya, demi permintaanmu itu.” Lalu dibawanya Abu Jandal yang babak belur ke dalam perkemahan.

Kami terdiam. Dalam diam aku sangat bersyukur. Segala puji bagi Allah, saudaraku akhirnya terbebas dari siksaan itu. Pilu rasanya melihat itu di depan mata kepalaku sedang tiada yang dapat kuperbuat.

Rasulullah lalu berkata dengan keras, “Hai Abu Jandal, bersabarlah kamu setulus-tulusnya kepada Allah. Sesungguhnya Allah pasti memberikan penyelesaian dan jalan keluar kepadamu serta orang-orang sepertimu. Sesungguhnya, kami telah mengikat suatu perjanjian damai dengan orang-orang itu dan kami telah nyatakan janji kami kepada mereka. Tentu kami tidak boleh melanggarnya.” 

Lagi, kami menitikkan air mata atas perkataan beliau.

Ya Rasul..

Umar nampak resah. Napasnya gusar. Tubuh kekar itu seakan ingin segera keluar dari sangkar keterbelengguan. Ia masih belum percaya bahwa Islam akan benar-benar mengadakan perjanjian dengan kaum kafir la’natullah itu.

Pertanyaan demi pertanyaan berulang kali ia ajukan. Pada sahabat, juga pada sang panglima, Rasulullah saw. Gejolak di hati dan pikirannya masih saja menolak keputusan itu.

“Pernahkah aku mengatakan kepadamu bahwa ini akan terjadi pada perjalanan kalian kali ini?” tanya Rasul menanggapi deruan keresahan Umar dan yang lain.

“Memang tidak,” Umar menjawab.

Lalu, baginda Rasulullah saw. bersabda, “Adapun kamu sekalian memang benar kelak akan memasuki masjid al Haram, lalu mengambil kunci Ka’bah. Dan aku mencukur kepalaku dan kepala kamu sekalian di tengah kota Mekah. Lalu aku berwukuf di Arofah bersama orang-orang yang berwukuf lainnya.”

Sejurus kemudian, beliau arahkan seluruh pandangannya pada sahabatnya, Umar. Kemudian, kepadanya dan kepada seluruh sahabat beliau bersabda, “Sudah lupakah kamu sekalian peristiwa Uhud, di kala kamu lari tanpa menoleh kepada seorang pun, sedang aku berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu? Sudah lupakah kamu sekalian peristiwa Ahzab, di kala mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu? Sudah lupakah kamu sekalian peristiwa ini? dan sudah lupakah kamu sekalian peristiwa itu?”

“Maha benar Allah dan RasulNya. Ya Nabi Allah, kami tidak bisa berpikir seperti yang Anda pikirkan,” serentak kami menjawab. Kami sungguh malu dengan sentilan beliau pada kami. Tak selayaknya kami menggugat atas sedikit yang kami upayakan di jalan ini.

Akhirnya, kertas dan tinta pun didatangkan. Tanya jawab yang baru saja usai sungguh sangat panjang. Rasul memanggil Aus bin Khauli untuk menjadi penulis beliau.

“Yang boleh menjadi penulis hanyalah sepupumu, Ali, atau Utsman bin Affan.” Tukas suhail berkeberatan atas pemilihan Aus.

Rasul pun memilih Ali. “Tulislah, ‘Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim’.”

Suhail menyela, “Saya tidak mengenal ar Rahman. Tapi, tulislah seperti yang biasa kita tulis, ‘Bismikallahumma’.”

Kami semua geram mendengar selaan Suhail. “Yang benar ar Rahman. Demi Allah, tulis saja Ar Rahman.”

Suhail langsung menyahut, “Kalau begitu, saya sama sekali tak mau berdamai dengannya,”

Brr..rr.. Sombong sekali lelaki itu, batinku geram. Aku saja rasanya ingin sekali menebaskan pedang ke arahnya jika bukan Rasul yang mencegah. Terlebih lelaki seperti Umar.

“Tulislah, ‘Bismikallahumma. Inilah kesepakatan antara Muhammad Rasulullah..” sabda beliau.

Belum usai beliau menuturkan kalimatnya, lagi-lagi Suhail menyela, “Kalau saya mengakui bahwa kamu Rasul Allah, mengapa saya harus melawan kamu dan tidak mengikutimu saja? Apakah kamu sudah tidak menyukai lagi namamu dan nama ayahmu, Muhammad bin Abdullah?”

“Apa maksudnya ini?” “Yang benar saja!” “Jangan tulis kecuali Muhammad Rasulullah!”

Riuh suara kami melantang di langit hari itu. Tak kuasa rasanya seorang rasul Allah direndahkan namanya sedemikian rupa. Benar-benar, aku sangat tidak tahan dengan perlakuan mereka terhadap kami. Rasa-rasanya, lebih rela aku terbunuh sebagai syahid saat melawan mereka ketimbang harus mendengar celaan mereka ini.

“Jangan tulis kecuali Muhammad Rasulullah,” kata Usaid bin Khudair dan sa’ad bin Ubadah. Keduanya bahkan menahan dan memegang tangan Ali agar tak memenuhi permintaan konyol Suhail. “Kalau tidak, pedanglah yang akan berbicara di antara kita. Mengapa kita memberi kehinaan dalam agama kita?” lanjut mereka lagi.

“Diamlah kalian,” seru Rasul menenangkan kami. Sedetik kemudian kami diam. Emosi yang membuncah ini rasanya mungkin akan jadi bahaya jikalau bukan rahmat Allah dan kebijaksanaan beliau memenangkan kami.

Hawaithib tertegun demi melihat pemandangan barusan. Berkata lagi ia pada Mikraz sahabatnya, “Saya tak pernah melihat suatu kaum yang sedemikian ketatnya menjaga kehormatan agamanya selain mereka,”

“Aku, Muhammad bin Abdullah, tulislah,” kata Rasul pada Ali, sang juru tulis.

Beberapa jam kemudian, selesailah penulisan perjanjian Hudaibiyah itu. Suhail dan rombongannya telah pergi. Jejaknya tak lagi nampak di pelupuk mata kami.

Kami pun menatap gontai slide demi slide hari ini.

Rasulullah bangkit dan berseru pada kami, “Bangkitlah kalian, lakukanlah penyembelihan, bercukur dan bertahallul-lah..”

Tak seorang pun dari kami menyambut seruan beliau. Kami juga manusia. Bukankah wajar menuai rasa kecewa?

Diulanginya lagi seruan itu oleh sang panglima, “Bangkitlah kalian, lakukanlah penyembelihan, bercukur dan bertahallul-lah..”

Dan lagi, “Bangkitlah kalian, lakukanlah penyembelihan, bercukur dan bertahallul-lah..”

Tepat tiga kali sudah seruan itu dikumandangkan. Tapi tetap tak ada satu pun dari kami beranjak. Beliau sangat marah. Lalu beliau beranjak menuju kemahnyamenemui istri beliau, Ummu Salamah ra. dan beliau pun berbaring.

“Mengapa engkau, ya Rasulullah?” tanya sang istri lembut. Tak sedikit pun Rasul merespon. Diulanginya pertanyaan itu tiga kali, tetap dengan penuh kelembutan dan hikmat kasih sayang.

“Aneh, hai Ummu Salamah!” Akhinya terucap jua sesuatu dari bibir beliau.

“Sesungguhnya aku telah katakan pada orang-orang itu berkali-kali. Lakukanlah penyembelihan, bercukur, dan bertahalul-lah. Tetapi, tiada seorang pun dari mereka yang menuruti perintahku. Padahal mereka mendengar perkataanku dan memandang pada wajahku,”

Wajah Rasul tertunduk. Beliau, seutamanya manusia pun sanggup mengalami kesedihan manakala sahabat dan umatnya berlaku begitu padanya.

Sang istri bijak dan hangat menjawab, “Ya Rasulullah, berangkatlah engkau sendiri menuju binatang hadyu-mu, lalu sembelihlah, niscaya mereka akan mengikutimu.”

Angin segar nampak bertiup kali itu. seketika itu juga, Rasulullah saw. mengenakan pakaiannya. Diambilnya sebuah tombak dan bergeraklah beliau ke arah seekor hadyu. Beliau hujamkan tombak itu ke arah unta hadyu-nya sembari berkumandang keras-keras, “Bismillahi, Wallahu Akbar!” lalu disembelihnya binatang itu.

Sekonyong-konyong kami berlompatan menuju binatang hadyu kami masing-masing. Beramai-ramai kami menyembelihnya hingga nampak tak cukup tempat ini. kami menyembelih beramai-ramai dengan sang panglima.

Usai menyembelih hadyu, sang panglima beranjak menuju kemahnya yang terbuat dari kulit berwarna merah. Di dalam telah menunggu seorang tukang cukur. Beliau meminta sang tukang cukur mencukur seluruh rambutnya.

Setelah itu, dari dalam kemah beliau berucap, “Semoga Allah merahmati orang-orang yang bercukur,”

Seseorang di antara kami bertanya, “Ya Rasulullah, dan orang yang hanya memendekkan rambutnya?”

Akan tetapi, beliau tetap mengucapkan, “Semoga Allah merahmati orang-orang yang bercukur,” sampai tiga kali, barulah beliau mengucapkan, “Dan, orang-orang yang memendekkan rambutnya.”

“Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad (SAW) dan Suhail bin ‘Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapapun yang ingin mengikuti Muhammad (SAW), diperbolehkan secara bebas. Dan siapapun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas. Seorang pemuda, yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad (SAW) tanpa izin, maka akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila seorang mengikuti Quraisy, maka ia tidak akan dikembalikan. Tahun ini Muhammad (SAW) akan kembali ke Madinah. Tapi tahun depan, mereka dapat masuk ke Mekkah, untuk melakukan tawaf disana selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah”

Akhirnya, ali selesai menuliskan naskah Hudaibiyah ini. Abu Bakar bin Abi Quhafah, Umar Ibnul Khathab, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah binJarrah, Muhammad bin Maslamah, Huwaithib bin abdul Uzza, dan Mikraz bin Hafsh menjadi saksi sejak kali pertama huruf digoreskan oleh Ali.

“Naskah perjanjian ini harus ada padaku,” seru Suhail.

Rasul berkata, “Bahkan harus ada padaku,”

Ditulislah kembali satu naskah duplikasi untuk Suhail.

Sekilas nampak besar kerugian pada kami, kaum muslim. Inilah yang Umar khawatirkan. Bukankah logikanya perjanjian ini mengekang pergerakan kami dalam mendakwahkan Islamlantaran senjata kita tertahan dan terbatasi? Namun, kami tahu. Dengan diadakannya perjanjian inilah, kami bisa kembali ke Mekah dengan aman walau tanpa perlindungan orang kuat dalm kabilah tertentu. Dengan perjanjian ini, pastilah Allah dan RasulNya memahami bahwa terbuka peluang besar untuk Islam.

‘Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu.

300112

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s