MILIKILAH JAKARTA

Berada di Jakarta berarti harus siap hidup dengan  jutaan alasan untuk stres. Sebut saja macet, banjir, sampah, polusi, tekanan kerja, cuaca tak menentu, nyamuk, panas, pengamen, dan lain-lain. Semua hal itu menjadi makanan harian warga Jakarta. Tua, muda, kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat yang ada di Jakarta tahu benar akan konsekuensi ini.

Sayangnya, tekanan yang rutin menyambangi kehidupan warga Jakarta itu tidak diimbangi dengan upaya penetralnya. Harapan untuk hidup tenang di Jakarta nampaknya hanyalah sebuah utopia saja.

Jakarta, kelak 10-20 tahun kemudian, rumah sakitnya mungkin akan penuh oleh orang-orang sakit karena tekanan psikis (mental). Betapa tidak, unsur-unsur seperti individualisme, korupsi, kriminalisme, liberalisme, monopoli, dan kawan-kawannya sudah menjadi hal yang terintegrasi erat dengan kehidupan warga Jakarta. Rasa kekeluargaan, kepedulian, tolong-menolong, rasa malu, semuanya terkikis dan lenyap secara berangsur.

Jakarta yang nyaman jelas menjadi dambaan semua warga Jakarta itu sendiri. Membayangkan Jakarta yang hijau dan sejuk, Jakarta yang ramah, bebas macet dan polusi, mungkin bagaikan pungguk merindukan bulan saja. Pertanyaan demi pertanyaan berkelebat. Mungkinkah Jakartaku membaik? Mulai dari mana perbaikan itu? Oleh siapa?

Jakartamu Jakartaku

Jakarta hanyalah satu kota di antara ratusan kota di negeri ini. Namun, kedudukannya sebagai jantung negara menyebabkan kota ini istimewa dan menjadi gantungan hidup bagi banyak jiwa. Jakarta merupakan representasi wajah Indonesia. Jika ingin tahu bagaimana Indonesia, selayaknya Jakarta mampu mewakilinya.

Namun, apakah Jakarta sudah menjadi wakil yang baik dari Indonesia?

Jika disandingkan dengan hal-hal yang orang luar tahu tentang Indonesia; keramahan, hijaunya, dan sopan santun warganya, maka patut diragukan bahwa Jakarta mampu mewakili hal tersebut. Modernisasi, globalisasi, budaya hedonis, semuanya telah menyeret Jakarta menjadi asing bahkan bagi warganya sendiri.

Jakarta ini milik siapa?

Selayaknya Jakarta adalah milik semua warganya dan juga milik seluruh rakyat Indonesia. Rasa memiliki Jakarta patut ditumbuhkan terutama bagi setiap orang yang tinggal di sini. Rasa memiliki ini bukan mengarah pada tindakan yang semena-mena lantaran merasa berhak melakukan apapun. Rasa memiliki Jakarta diharapkan mampu menumbuhkan sikap kepedulian yang tinggi dari individu di dalamnya.

Kepedulian individu ini jika bergabung akan membentuk kepedulian kolektif. Dan kepedulian kolektif terhadap Jakartalah yang akan menuntun pada aksi nyata perbaikan Jakarta secara signifikan.

Aksi-aksi perbaikan masyarakat sangat dirindukan oleh Jakarta. Jakarta rindu akan penghijauan. Ia rindu untuk dapat terbebas dari banjir. Ia pun rindu akan pemimpin dan masyarakat yang jujur dan peduli.

Milikilah rasa memiliki akan Jakarta. Berharap dari rasa itu muncul keinginan untuk menjadikan Jakarta sebagai rumah paling nyaman bagi kita semua yang ada di dalamnya. Selayaknya rumah tempat kita tinggal, maka menjadikannya surga bagi kita penghuninya adalah suatu keharusan.

 

021211

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s