Multikulturalisme

Saya tertarik dengan tulisan Adian Husaini di kolom Suara Hidayatullah Shafar 1433 H ini berjudul Multikulturalisme. Dikatakan bahwa sekarang ini baik-buruknya seorang muslim tidak lagi diukur dari istilah-istilah baku dalam Islam seperti ‘iman-kufur’, ‘tauhid-syirik’, ‘takwa-fasik’, ‘adil-zalim’, dan sebagainya.

Kini, orang dikatakan baik jika dia pluralis, multikulturalis, inklusif, pejuang HAM, berwawasan gender, dan sebagainya. Sebaliknya, orang dicap buruk dan jahat jika sudah terkena cap radikal, fundamentalis, militan, dan sebagainya.

Apa yang jadi analisis Adian Husaini memang tengah menghinggapi masyarakat kita baik di tataran masyarakat awam maupun di lingkungan akademis (sekolah, kampus, profesi). Telah terjadi pergeseran cara pandang masyarakat dalam menilai konsep baik-buruk manusia kini. Turut andil dalam hal ini pula peran media dengan otoritas subjektivitas yang dimilikinya, ia menyetir arus opini publik ke arah yang dikehendaki.

Disebutkan oleh Adian Husaini, buku berjudul Fiqih Lintas Agama terbitan Paramadina yang mempromosikan pernikahan beda agama dan membongkar hukum Islam tentang keharaman pernikahan Muslimah dengan lelaki nonMuslim.

Buku ini hanya merupakan salah satu dari sekian banyak buku dan media yang turut merusak pemikiran masyarakat kita dengan memutarbalikkan fakta syariat.

Masyarakat kita kini, kata Prof. Syed Muhammad Naquib al Attas, menghadapi problem confession of knowledge (kekacauan ilmu) yang kelak akan melahirkan sikap hilangnya adab.

Penggunaan konsep multikulturalisme sebagai paradigma baru pendidikan Islam pun bermasalah. Jika pun multikulturalisme adalah konsep yang baik sejak dulu, kenapa baru sekarang dijadikan paradigma dalam pendidikan Islam? Apakah pendidikan sejak zaman Nabi Muhammad SAW tidak berbasis multikulturalisme? Selama ratusan tahun pesantren berdiri di Indonesia, apakah tidak berwawasan multikultural?

Dan sekali lagi Adian Husaini menanyakan sebuah retorika, “Manakah yang lebih tepat; pendidikan Islam berbasis multikulturalisme atau pendidikan Isllam berbasis tauhid?”

Betapa kita sebagai Muslim yang sesungguhnya semestinya bijak dalam menyerap informasi, bersikap , dan bertindak. Islam telah mempunyai konsep yang jelas tentang hubungan antarmanusia, baik sesama Muslim maupun dengan nonmuslim.

Tidak pantas bagi seorang Muslim memandang sinis saudaranya yang tengah dalam proses berislam kaffah. Kini saatnya kita menjadi Muslim cerdas yang memahami istilah dan konsep ‘asing’ dari makna aslinya dan mengembalikan analisis dan telaahnya pada kerangka pandang Islam secara utuh.

Dan tidak selayaknya pula multikulturalisme menggusur tauhid dan syariat Islam. Jika itu terjadi, kata Adian Husaini, termasuk tindakan yang tidak beradab (be-adab, biadab-read). Na’udzubillah.

180212

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s