Budaya Verbal, Kunci Sukses Seorang Tere Liye

Menjadi penulis sesukses Tere Liye bukanlah impian yang keliru untuk diidamkan. Produktif, laris, dan mantap setiap karya yang dia hasilkan. Bukunya seperti Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Eliana, Pukat, Burlian, dan Ayahku (Bukan) Pembohong, tak ada satu pun di antara mereka yang tidak laris di pasaran.

Dalam bedah bukunya yang digelar di panggung utama Islamic Book Fair (IBF) pada 11 Maret lalu, Tere Liye mengungkapkan bahwa budaya herbal-lah yang menjadi kunci suksesnya. Apa itu budaya verbal?

Dalam keluarganya, Tere Liye yang bernamaaslikan Darwis terbiasa untuk mendengarkan dongeng dari orang di sekelilingnya. Dari abangnya, ia mendengarkan dongeng yang melimpah dan sarat hikmah. “Dengan imbalan memijit beliau, saya mendengarkan dongeng dari beliau,” ungkap Tere Liye. “Saya pun semangat menyanggupinya. Tak masalah. Saya dibebaskan untuk memilih suatu topik untuk dijadikan dongeng.”

Tere Liye sangat antusias menyebutkan benda yang katanya menjadi kata kunci dongeng. Dari kata ‘batu’, misalnya. Muncullah sebuah kisah luar biasa dari abangnya tentang batu sakti yang digunakan pemda untuk menyelamatkan seorang putri. Bahkan esoknya, tak puas dengan ‘batu’, Tere Liye kecil meminta kisah tentang ‘daun’. Maka sang abang pun dengan terampil merangkai kalimat indah berbingkai kisah penuh hikmah tentang daun.

Dari dongeng yang bertebaran di hidupnya, lahirlah Tere Liye kini yang sukses menyabet hati jutaan pembaca di Indonesia. Novel-novelnya yang hidup telah menghidupkan jiwa para pembaca untuk senantiasa menebar kebaikan.

Tere Liye dalam acara kemarin berkata bahwa dia tidak butuh penghargaan berupa apapun dari pembaca. Satu hal yang dia harapkan dari pembaca yakni usai membaca bukunya, pembaca bersedia untuk berubah. Berubah menjadi lebih baik. “Itu adalah penghargaan terbaik yang bisa Anda berikan,” tuturnya.

Nasihat dengan hikmah adalah sebaik-baiknya nasihat. Ia bahkan bisa membuat orang lumpuh bisa berjalan, membuat hati yang membatu menjadi lunak dan penuh kasih sayang.

“Menulis dan teruslah mengasah diri untuk menulis,” pungkas Tere Liye.

120312

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s