Dengarlah Dengar

Pada edisi tulisan kali ini, saya mengangkat tema khusus tentang indera. Tahukah Anda apa indera pertama yang manusia miliki? Ya, dia adalah pendengaran.

Pendengaran dan telinga, adalah sepaket indera yang Allah aktifkan kali pertama pada diri manusia sejak awal kehidupannya sebagai janin. Dalam usia kandungan dua pekan, janin telah aktif pendengarannya (Suara Hidayatullah, Dzulqa’dah 1432 H). Untuk itulah, sejak awal dalam kandungan, sangat baik bagi ibu untuk mulai berkomunikasi dengan sang janin dan mengajaknya mendengar kalam Allah yang indah.

Mendengar adalah sebuah aktivitas sederhana. Sangat sederhana. Namun ternyata, banyak orang masih mengalami kesulitan dalam aktivitas sederhana ini. Sering terjadi konflik karena salah dengar yang kita lakukan. Info A, kita dengar dan tangkap berbeda menghasilkan info lain yang justru merusak. Kasus lain, hubungan komunikasi bisa meregang lantaran salah satu atau semua pihak tidak mampu menjadi pendengar yang baik.

Contoh konkret dari masalah mendengar yakni pada tragedi Titanic. Tenggelamnya kapal Titanic pada 14 April 1912 adalah karena pengabaian sang kapten (Edward J. Smith) untuk mendengar peringatan dari Frederick Fleet yang merupakan petugas menara pengintai saat melihat gunung es.

Mendengar, nampak jauh lebih mudah daripada berbicara. Namun, seringkali kita menganggap remeh hal yang satu ini. Kita cenderung mendominasi dalam setiap forum dengan kata-kata indah meluncur dari mulut kita. Kita sering merasa lebih hebat dengan berkata-kata. Padahal, hakikat sesungguhnya tidaklah demikian.

Rasul sebagai teladan terbaik umat manusia justru mencontohkan sebaliknya. Beliau adalah pendengar yang paling baik. Beliau hadapkan seluruh tubuh beliau pada orang yang mengajak beliau berbicara. Betapa besar penghormatan beliau pada orang lain yang menjadi lawan bicara.

Pernah suatu ketika seorang kafir Quraisy, Utbah bin Rabi’ah, datang pada Rasul. Dia merupakan utusan kaumnya yang ditugasi membujuk Rasul agar menghentikan dakwahnya. Utbah menyampaikan panjang lebar apa yang menjadi uneg-unegnya dan kaumnya. Setelah selesai, Rasul meminta izin untuk giliran berbicara menyampaikan suatu hal pada Utbah. Lalu Rasul bacakan beberapa ayat dari Surat Fushilat ayat 37,

“Dan sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang Menciptakannya, jika Ialah yang hendak kamu sembah.”

Setelah mendengar ayat itu, atas seizin Allah, hati Utbah takluk. Ia kembali pada kaumnya dan meminta mereka memanggil Muhammad SAW dengan panggilan Rasul Allah.

Subhanallah, dari kisah di atas kita temukan suatu fakta tentang kekuatan mendengar. Coba bayangkan jika saat Utbah berbicara panjang lebar, Rasul memotong pembicaraaannya. Boleh jadi Utbah akan tersinggung dan berlalu dari hadapan Rasul. Semakin bencilah ia pada sosok Muhammad dan Rasul tidak akan bisa menyampaikan ayat Allah yang indah itu padanya.

Mendengar adalah soal kesabaran dan kebersahajaan. Allah memberikan keistimewaan pada Rasul berupa jawami’ al kalim (kata-kata singkat tapi padat makna). Kata Jabir bin Samurah, beliau menyifati Nabi dengan mengatakan, “Nabi lebih banyak diam dan sedikit tertawa,” (Riwayat Ahmad).

Selain Nabi, ada sesosok sahabat yang layak dinisbatkan menjadi pendengar teladan. Beliau adalah Umar bin Khathab r.a. Beliau memiliki prinsip sederhana yang luar biasa, “Orang yang paling aku cintai adalah orang yang mau menunjukkan kekuranganku.”

Pada suatu ketika, Umar keluar dari masjid bersama para sahabat yang lain. Ketika itu, ada seorang wanita yang tiba-tiba memberikan wejangan pada Umar sang khalifah. Panjang lebar pula wanita ini memberikan nasihat pada sang umara. Dan Umar pun takzim mendengarkan nasihat wanita tua itu.

Para sahabat yang tak sabar bertanya pada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah menghentikan sekian banyak orang (ikut berhenti lantaran tak ingin mendahului Umar) demi wanita renta ini?” Umar menjawab, “Tahukah kalian siapa dia? Dia ini adalah wanita yang didengar aduannya oleh Allah di atas tujuh lapis langit. Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah..”

Subhanallah, betapa luar biasanya Umar. Kedudukannya sebagai pemimpin tidak membuatnya congkak untuk sekedar mendengarkan nasihat walau itu datang dari seorang rakyat biasa. Bisa kita bayangkan betapa bahagianya jika kita memiliki pemimpin sebijak Umar sekarang ini.

Wahai Saudaraku sekalian, mari kita berefleksi sejenak. Dua telinga yang Allah Anugerahkan pada kita ini, jangan sampai kita siakan. Telah Allah peringatkan pada kita bahwa kelak di neraka akan ada segolongan jin dan manusia yang menjadi penghuninya lantaran tidak memfungsikan telinganya untuk mendengar kalam Allah (Al A’raf : 179). Na’udzubillah.

Telinga kita memang dua. Jika demikian masih kita tak bisa bijak menggunakannya, maka alangkah sia-sianya. Tunjukkan bahwa kita adalah orang berakal yang banyak mendengar, memahami, memaknai, dan bertindak. Pandai mendengar menjadi indikasi kearifan dan kebijakan seseorang. So, be a good listener.

Wallahu a’lam bish showab.

210112

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s