Inspirator Menulisku

Setiap orang memiliki inspirator dalam hidupnya. Tokoh yang menjadi inspirasi merupakan standar yang dijadikan acuan dalam seluruh atau beberapa aktivitas tertentu dalam kehidupan. Sebaik-baik inspirator adalah Rasulullah SAW. Beliau adalah sumur teladan yang tak pernah kering oleh zaman. Selayaknya kita sebagai Muslim meneladani beliau, berusaha sedekat mungkin dengan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam aktivitas khusus menulis, saya mempunyai dua tokoh inspiratif. Pertama, Ida S. Widayanti. Nama beliau mungkin tidak setenar Asma Nadia atau Helvy Tiana Rosa. Namun, saya benar-benar terpikat oleh setiap karya beliau.

Tulisan yang beliau hasilkan sangat unik. Saya sering dan senang membaca tulisan beliau di rubrik pertama Jendela Keluarga majalah Suara Hidayatullah. Apa yang beliau tuliskan, lebih sering seputar perilaku anak-anak, adalah hal yang sangat sederhana. Bahkan, sering saya tidak menyadari bahwa hal sederhana yang beliau angkat menjadi bahasan adalah hal yang sangat sering saya temui dalam kehidupan.

Gaya khas penulisan beliau adalah pertama, beliau akan mengangkat realita melalui dialog atau narasi kecil. Selanjutnya, ada pembahasan ringan seputar dialog atau narasi tersebut. Pembahasan biasanya disertai dengan pendapat ahli yang dikutip dari buku tertentu. Setelah itu tak lupa beliau kaitkan dengan nilai dalam Islam. Penggunaan bahasa yang ringan dan sederhana membuat saya sebagai pembaca dengan mudah menyerap kalimat beliau.

Ida S. Widayanti, darinya saya belajar bahwa hakikat belajar adalah sangat luas. Kita bisa belajar dari setiap hal yang mungkin kita anggap sederhana di sekitar kita.

Tokoh kedua yakni Muhammad Fauzil Adhim. Tokoh yang satu ini cukup tersohor. Beliau merupakan pengisi tetap kolom parenting di rubrik yang sama dengan Ida S. Widayanti. Jika Ida hanya mendapat porsi satu halaman, Ustadz Fauzil mendapat jatah dua halaman dalam majalah Suara Hidayatullah ini.

Pembahasan yang diangkat beliau juga tentang keluarga, karena memang berada pada rubrik tentang keluarga. Beliau biasa mengawali tulisannya dengan contoh kisah sahabat Nabi atau kisah Nabi. Selanjutnya, beliau mengaitkan makna kisah tersebut dengan realita di negeri ini.

Tulisan beliau, hampir setiap paragrafnya sarat akan kalimat penting yang kaya makna. Sebagai contoh, dalam tulisan berjudul Keimanan Lahirkan Keteladanan beliau menuliskan, “Tatkala karakter yang menjadi kegelisahan utama, prestasi akan menyertai. Prestasi akan muncul sebagai akibat. Bukan tujuan.”

Bisa Anda lihat? Betapa kayanya kalimat beliau akan makna dan hikmah. Beliau juga tak pernah lupa mengaitkan dengan ayat atau hadis untuk menguatkan tulisan beliau. Walaupun membaca tulisan beliau membutuhkan kekuatan mata yang ekstra, karena cenderung panjang dan kecil tulisannya (untuk ukuran mata saya), namun itu tak mengurangi kekaguman saya akan karya-karya beliau.

Di luar sana mungkin sangat banyak tokoh yang jauh lebih handal dalam menulis. Menulis, memang tidak membutuhkan bakat (kata Jauhar al Zanki). Menulis adalah soal cinta. Cinta akan berbagi pada orang lain.

Dan kedua inspirator tadi berhasil membuat saya semakin terpikat dengan aktivitas menulis. Semoga, Anda turut menemukan inspirator dalam hidup Anda yang memotivasi dan semakin kuatkan perjuangan Anda. Belajar dari tokoh inspirator tak ubahnya merupakan persiapan diri pribadi untuk terus menjadi inspirasi bagi sekitar.

Selamat menginspirasi!

200112

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s