Wawancara Rivai Hutapea

Tahu majalah Sabili? Itu loh, majalah Islam yang berslogankan Ramah, Tegas, dan Diperhitungkan. Nah, berikut petikan hasil wawancara dengan Rivai Hutapea, mantan pemimpin redaksi (pemred) Sabili yang kini menjadi pemred majalah keluarga Muslim, Oase.

Sejak kapan Bapak bergabung dalam dunia jurnalistik?

Mulai tertarik dengan jurnalistik ketika masih di bangku kuliah di Fakultas Hukum Uninersitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Saat itu, hanya ikut-ikutan bergabung di majalah kampus FH UGM. Awalnya hanya ingin kenal, tapi lama kelamaan semakin tertarik. Terlintas di kepala, enak juga ya kalau bisa menulis dan tulisannya dibaca banyak orang. Ada kepuasan rasanya jika dikenal banyak orang. He…he..he…Tapi pertama kali terlibat langsung di dunia jurnalistik pada tahun 1997, kurang lebih satu tahun usai menamatkan kuliah di FH UGM.

Pertama kali bergabung di Majalah Dharma Sena (Majalah Angkatan Darat). Posisi saat itu sebagai reporter. Saat menjadi reporter, saya banyak mewawancarai tokoh-tokoh sentral negeri ini, seperti Jenderal Wiranto (Menkopolkam), Jenderal Soebagio HS (Kepala Staf Angakatan Darat), Prof Yuwono Sudarsono (Menteri Pertahanan), Prof Ryass Rasyid (Meneg Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah PUOD), Jenderal Syarwan Hamid (Mendagri) dan banyak lainnya. Sebagai wartawan pemula, ada satu kebanggaan dalam diri dapat bertatap muka langsung, wawancara eksklusif dengan mereka semua. Setidaknya melalui wawancara tersebut, saya dapat mengerti pemikiran dan berdialog langsung dengan tokoh-tokoh yang memegang kendali kekuasaan di Indonesia saat itu. Wow, keren abis, hehehe. Di Dharma Sena tidak lama hanya satu tahun. Tapi satu tahun saya dapat banyak belajar jurnalistik, terutama teknis reportase mewawancarai sumber.

Tahun 1998, saya bergabung ke majalah Islam Sabili. Tahun 1998, adalah edisi kebangkitan kembali Sabili setelah cukup lama tiarap dari peredaran. Di majalah ini, minat dan taste jurnalistik saya mulai tertata dengan baik. Dari sini pula saya komplit belajar ilmu jurnalistik, mulai dari reportase, penulisan, hingga ke managemen sebuah penerbitan. Saya jalani profesi jurnalistik di Sabili dengan jenjang yang bertingkat, mulai dari reporter, koordinator reportase, Redaktur Pelaksana, Wakil Pemimpin Redaksi dan posisi terakhir sebagai Pemimpin Redaksi merangkap General Manager, yang membidangi urusan bisnis majalah. Cukup lama saya menjalani karir di Sabili, tidak kurang 13 tahun lamanya. Hingga pada awal Desember 2011, saya mengundurkan diri dari Sabili dan membidani kelahiran sebuah majalah keluarga Muslim urban, Oase. Di majalah Oase posisi saya sebagai Direktur merangkap Pemimpin Redaksi.

Subhanallah, mantap sekali! Lalu, apa motivasi dan mimpi terbesar Bapak dalam dunia yang Bapak geluti saat ini (jurnalistik)?

Cita-cita saya sangat sederhana. Hidup ini hanya sekali dan hidup yang sekali itu bagaimana memberikan manfaat besar bagi banyak orang. Di mana dan kapan pun, sebaiknya kita dapat menyumbangkan kontribusi kebaikan kepada banyak orang. Kontribusi kebaikan itulah yang kelak akan menjadi tabungan kita di hari kemudian.

Sangat sayang, kebaikan dan ilmu yang ada hanya dimanfaatkan sendiri. Ia akan banyak berguna jika disampaikan kepada banyak orang. Jangan sebaliknya, keberadaan kita justru mendatangkan kemudharatan bagi diri, keluarga dan lingkungan kita. Mereka itulah orang-orang yang merugi. Waktu yang diberikan Allah SWT kepada kita sangat sedikit. Paling banter 63 tahun, itu pun jika Allah izinkan. Bagaimana di waktu yang relatif pendek itu, kita dapat mengukir sejarah dengan memberikan kontribusi kebaikan kepada diri, keluarga, dan lingkungan kita. Inilah sesungguhnya motivasi utama terlibat di bidang yang saya geluti, yaitu menyebarkan kebaikan kepada banyak orang.

Apa lagi pengalaman menarik saat menjadi bagian dari tim redaksi majalah Sabili?

Selama 13 tahun berkarir di Sabili saya melewati semua jenjang karir jurnalistik di sabili, mulai dari reporter, asisten koordinator reportase, koordinator reportase, redaktur pelaksana, wakil pemimpin redaksi, pemimpin redaksi hingga diangkat menjadi general manager sabili. Saya adalah satu-satunya orang di Sabili yang komplit melewati jenjang struktural di Sabili dan saya pula satu-satunya orang yang paling banyak mengoleksi Surat Keputusan (SK). Ha…ha…ha.

Apa tantangan dan kendala menjadi pemred?

Wah tentu saja sangat menantang, sekaligus sangat berisiko, he..he..he.. Tantangan paling utama adalah bagaimana menjaga dan memaintenance idealisme majalah. Mempertahankan idealisme majalah adalah pertaruhan diri sebagai pemred. Sebagai pemred, ia tidak lagi terlalu banyak terlibat urusan teknis, tapi lebih banyak membangun jaringan dan lobi eksternal. Saat membangun lobi dan jaringan itulah, sebagai pemred ia harus mampu membawa dan mempertahankan visi misi majalah yang ia pimpin. Itulah sebabnya, tidak setiap orang dari jurnalis dapat menjadi pemred. Tidak sedikit persyaratan yang mesti dimiliki seorang Pemred. Sebab, maju or tidaknya sebuah penerbitan sedikit banyak ditentukan oleh pemrednya.

Kedua, seorang pemred juga harus dapat menjadi perekat semua elemen dan anggotanya. Pemred juga kudu mengetahui kelebihan dan kekurangan dari setiap staf dan orang-orang yang dipimpinnya. Sehingga setiap penugasan yang diberikan dapat efektif dan tidak ada yang terbengkalai karena salah menunjuk orang. Selebihnya ia juga harus menjadi panutan bagi setiap orang yang dipimpinnnya sehingga dapat membawa gerbong redaksi lebih baik.

Bagaimana kisah awal mula lahirnya Oase?

Majalah Oase didirikan untuk membidik segmen keluarga muslim urban (perkotaan) yang berada di grey area (wilayah abu-abu). Ciri utama keluarga muslim urban ini adalah semangat untuk mengamalkan Islamnya cukup tinggi, namun masih terbatas tingkat pemahaman keislamannya. Jumlah komunitas di segmen ini cukup banyak dan jadi ajang perebutan pengaruh berbagai fikrah (ideologi dan pemikiran), seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme. Di sinilah urgennya keberadaan majalah seperti Oase, yaitu secepat mungkin mengajak mereka untuk berislam secara benar, kaafah sesuai perintah Allah SWT dan tuntunan Rasulullah saw.

Berbeda dengan majalah Islam lainnya, katakanlah seperti Sabili, Oase tampil dengan pendekatan spesifik, yaitu pembahasan rubrikasi dikemas dengan lima konsep terpadu. Pertama, solutif yaitu menjawab persoalan yang sedang Anda alami. Kedua, aplikatif mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, edukatif mendidik dan memberikan pembelajaran. Inspiratif, membangkitkan inspirasi dan informatif menambah wawasan dan khazanah pengetahuan Anda.

Apa perbedaan paling kentara antara menjadi pemred Sabili dengan Oase?

He…he…he…Menjadi pemred di Sabili kudu streng sebab segmen yang dibidik adalah komunitas Muslim yang sudah hijau, yaitu mereka yang dari sisi pemahaman keislamannya sudah lebih baik. Kasar kata, kalau disuruh berjihad, mereka pasti menyambut ajakan itu. Nah kalau di Oase harus diturunkan kadar penyampaiannya. Bagaimana tetap tegas, idealis namun sesuai dengan bahasa segmen yang akan dibidik yaitu kalangan Muslim grey area.

Ini tantangan tersendiri bagi saya orang yang pernah memimpin di majalah “keras” masuk ke majalah “soft”. Yang jelas, saya harus membuktikan bahwa berdakwah itu kadang kala harus keras, tapi suatu saat harus juga soft. Jadi jangan terus-terusan menjual kekerasan, tanpa melihat obyek dakwahnya. Saya bersyukur dapat merasakan berdakwah di dua komunitas berbeda ini.

Lantas, bagaimana cara mendirikan atau menerbitkan sebuah majalah itu?

Pertama, orientasinya harus jelas dulu. Untuk apa mendirikan majalah. For bisniskah or for dakwah. Yang enak sih for dakwah sekaligus mengembangkan bisnis. Kedua, menyusul kemudian adalah pilihan segmen yang mo dibidik harus jelas juga. Strata masyarakat cukup beragam dan bertingkat tingkat. Nah, mo membidik pasar yang mana. Ketiga, konsepnya kudu jelas juga. Konsep ini berkaitan erat dengan segmen yang akan dibidik. Karena konsep rubrikasi, sajian dan penulisan akan sangat bergantung dari segmen yang akan dibidik. Keempat, dana juga cukup penting. Mendirikan majalah termasuk high cost karena itu harus benar-benar diperhitungkan cash flow keuangan majalah. Terbukti, tidak sedikit majalah bertumbangan karena mengabaikan sisi ini.

Sip sip. Apa saran Bapak untuk para penulis/jurnalis Muslim muda Indonesia?

Mo jadi penulis or jurnalis kuncinya hanya tiga, yaitu menulis, menulis dan menulis. Tulislah apa yang ingin Anda tulis. Jangan tunggu hari esok atau jangan tunggu datangnya mood. Menulis itu gampang, tidak perlu menunggu sampai semua data komplit. Tulislah apa yang Anda ingin tulis. Tuangkanlah apa yang terlintas di benak Anda, jangan tunggu ide dan lintasan itu hilang.

Baiklah. Terima kasih untuk ilmu yang Bapak sampaikan. Ada tambahan lain yang ingin Bapak sampaikan?

Nah, untuk muda-mudi semua. Organisasi memang penting, namun, menjaga kesehatan jauh lebih penting. Ini pesan khusus juga untuk pewawancara (Ups..)

Nah, demikian hasil wawancara penulis dengan Rivai Hutapea, generan menejer dan pemred majalah Oase. Untuk berkomunikasi dengan beliau bisa melalui email ke rivai_hutapea@yahoo.com.

Berikut data singkat beliau.

Nama Lengkap  : S Rivai Hutapea

TTL                         : Jakarta, 26-11-1971

Studi Terakhir    : S1 Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

-S2 ilmu pemerintahan Institut Ilmu Pemerintahan, Jakarta (tesis tidak selesai)

-S2 ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Jakarta

Profesi                  : Jurnalis

Aktivitas Kini      :-Pemimpin Redaksi Majalah Oase

-Wakil Pemimpin Redaksi Warta Buku (Ikapi DKI Jakarta)

-Panitia Islamic Book Fair (IBF) 2012

Hobi                       : Mengumpulkan buku

Cita-cita                : Khusnul Khatimah

Prinsip Hidup     : Jadilah manusia yang bermanfaat bagi banyak orang

Motto                   : Segera kerjakan kebaikan. Jangan tunggu sampai esok hari.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi..

220212

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s