KAMMI Abal-Abal

Siapa yang tidak tahu KAMMI? Ya, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, organisasi eksternal kampus yang lahir di era reformasi Indonesia. Satu kata yang sering menjadi sorotan banyak pihak ketika mendengar nama KAMMI adalah kata “aksi”.

Aksi sering diidentikkan dengan euforia aksi jalanan; teriakan, tuntutan, massa, bahkan tak jarang anarki. KAMMI yang kini tengah gencar dengan gencatan penolakan terhadap rencana kenaikan harga BBM juga memasifkan upayanya melalui aksi jalanan. Ada sebuah pernyataan tak tertulis bahwa KAMMI dan kader KAMMI wajib untuk beraksi dalam konteks aksi jalanan. Lalu, bagaimana jika tidak?

Adakah sebuah unit KAMMI atau kader; komisariat, daerah, atau wilayah yang meniadakan aksi dalam agenda pergerakannya? Jika ada, bisakah mereka disebut KAMMI atau kader KAMMI? Beragam alasan mencuat, seringnya dari kader yang kerap melontarkan seribu satu alasan untuk menghindar dari aksi; tugas, pekerjaan, amanah lain, atau masih ada yang menghindar lantaran takut berurusan dengan polisi.

Secara leterlijk, jika memang ada maka ia layak disebut sebagai “KAMMI abal-abal”. Baik kader maupun secara wajihahnya tidak mampu menginternalisasi jati diri organisasi. Abal-abal di sini dimaknai sebagai sesuatu yang tidak serius, tidak qualified. Ini mengindikasikan ada mata rantai terputus baik dalam tataran pengaderan atau dalam laju pergerakan organisasi.

Abal-abalkah (KAMMI) kita?

Di balik semua itu, ada satu hal penting sebelum merefleksikan permasalahan ‘abal-abal’ lantaran ketiadaan aksi ini. Aksi, maknanya adalah sangat naïf jika diinterpretasikan sebagai aksi jalanan semata. Aksi sebagai pemaknaan dari gerak, bergerak, dan pergerakan memberikan ruang terbuka bagi kita dalam tataran aplikasinya.

Menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat, adalah salah satu bentuk aksi. Tanggap terhadap bencana, solidaritas Palestina, kajian pencerdasan kader, silaturahim tokoh, bahkan pun menulis adalah juga bentuk nyata sebuah aksi.

Nyawa dari sebuah aksi adalah kontribusi. Di dalamnya terdapat kebermanfaatan yang meluas dan sustainable (berkelanjutan). Jadi, apapun gerak kita, kecil maupun besar, adalah sebuah aksi apabila syarat kebermanfaatan tersebut terpenuhi. Bahkan pun, senyum dan perilaku baik kita pada tetangga merupakan wujud nyata aksi seorang kader KAMMI bukan hanya sebagai pencitraan semata.

Aksi sebagai bagian tak terlepaskan dari KAMMI memang kini tengah menyempurna tak hanya dari sisi jalanannya saja. Aksi jalanan adalah suatu kepastian sebagai ujung tombak pergerakan KAMMI. Menghilangkannya hanya akan membuat keterkungkungan organisasi ini layaknya menghilangkan huruf ‘A’ pada KAMMI, tak bisa terlafalkan.

Menjadi kader KAMMI yang abal-abal atau tidak bergantung pada kita. Maukah kita hanya mengekor tanpa ada produktivitas karya, memboikot aksi jalanan, atau yang lain, semua kita yang tentukan. Yang jelas, KAMMI tetap akan bergerak dengan aksi-aksinya yang dirindukan masyarakat sebagai upaya solutif berbagai permasalahan.

Say no to KAMMI Abal-Abal !!

Keep moving…

210312

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s