Belajar Bersama Tomcat

Isu yang mewabah di pemberitaan dalam negeri kini selain kenaikan harga BBM adalah tomcat. Tomcat diberitakan menjadi salah satu hal yang harus diwaspadai masyarakat Indonesia. Berbagai media massa meliput aksi serangga yang satu ini dalam menyerang warga.

Munculnya tomcat ini bermula di Jawa Timur. Kemunculannya membuat panik dan khawatir masyarakat tak hanya di Jawa Timur. Yang diberitakan oleh media adalah keganasan tomcat yang membuat luka di bagian yang terkena gigitan. Luka yang muncul seperti luka bakar dan melepuh.

Tomcat yang merupakan jenis kumbang ini hanyalah serangga kecil. Menurut penelitian, apa  yang digemborkan media bahwa tomcat sangatlah berbahaya perlu diklarifikasi. Tomcat memiliki manfaat membantu petani memakan wereng. Hal ini tentu sangat membantu petani mengendalikan populasi pengganggu tanamannya secara alami. Tidak lagi dibutuhkan bahan kimia perusak tanaman dan kesehatan manusia sebagai konsumen.

Akan tetapi memang, serangga predator yang satu ini memiliki racun yang bisa berefek iritasi (luka) di bagian kulit manusia. Meski demikian, perluasan racun ini bisa diatasi dengan perlakuan yang tepat.  Tindakan yang perlu dilakukan yakni mencuci kulit yang terkena gigitan dengan air sabun untuk menetralisir racun. Kemudian, tambahkan dengan mengoleskan salep kulit Hydrocortisone 1%, salep Betametasone, dan antibiotik Neomycin Sulfat 3 kali sehari, atau dengan salep Acyclovir 5% (gatra.com).

Berefleksi dari tomcat yang tiba-tiba tenar ini saya teringat akan diri kita. Sebagai manusia, tentu masing-masing diri kita memiliki lebih dan kurangnya. Wajar, manusiawi, demikianlah yang kita serukan. Akan tetapi, mari telusuri kembali diri kita. Dalam taraf kewajaran seperti apakah diri ini? Apakah lebih dominan manfaat atau kerugian yang kita bawa pada kehidupan kita?

Sering kali kita melenggang begitu saja dalam berbagai aktivitas. Dalam bahasa daerah kita kenal istilah tanpa tedeng aling-aling. Artinya, kita jarang menimbang manfaat dan kerugian sikap kita bagi orang lain. Padahal jelas, yang Rasulullah standarkan sebagai manusia terbaik yakni mereka yang sebanyak-banyaknya memberi manfaat pada orang lain.

Sebagai seorang pemuda muslim, di tengah hegemoni perang pemikiran dunia ini, perlulah kita kencangkan kembali ikat pinggang kita. Beberapa pemuda muslim kini justru ragu akan agamanya sendiri. Fenomena ini dipicu oleh gencarnya serangan SIPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme). Serangan yang justru didukung kuat media ini membuat generasi muslim muda, terutama, melemah.

Kecenderungan pemuda muslim beralih. Semakin sedikit pemuda muslim yang mengkaji agamanya (Islam) secara mendalam. Kesibukan aktivitas pendidikan formal yang menyedot waktu sering menjadi alasan.

Budaya baca, diskusi, dan mengkritisi permasalahan negara dan kemasyarakatan menjadi sepi. Pemikiran bahwa yang terpenting cukuplah belajar ‘di kelas’ saja bercokol di beberapa pemuda kita. Walhasil, pantaslah jika kehadiran pemuda sebagai ujung tombak solusi permasalahan masyarakat menjadi sebuah tanda tanya.

Kekritisan dan semangat perubahan pemuda muslim meredup. Jika demikian, wajar bila manfaat yang semestinya kita banyak kontribusikan akan semakin jauh dari jangkauan. Pemuda lebih sering berkutat pada aktivitas di atas kertas ketimbang langsung menyentuh pada masyarakat.

Kembali pada tomcat yang menjadi isu pembicaraan awal, seimbang adalah kunci dari fenomena yang kita hadapi. Tomcat yang mengalami ledakan populasi mengakibatkan efek negatif bagi masyarakat. Namun jika tomcat mampu terkendali, ia akan menjadi sahabat baik para petani.

Sebagai pemuda muslim, patutnya pengaturan porsi menjadi perhatian utama kita. Jangan sampai kita terlenakan dengan usia muda dan waktu luang kita. Ada satu hal dari sejarah kejayaan Islam yang perlu kita ingat. Bahwa kemenangan Islam tiadalah dapat diraih dengan leha-leha. Ia tidaklah dicapai dengan menjauhnya kita dari panduan utama (kitabullah).

Teringat bagaimana generasi awal meneladankan sukses pada usia mudanya. Ali, telah menjadi pakarnya sahabat cerdas sejak usia muda. Zaid, yang kuasai ragam bahasa saat usia belianya.Al Fatih yang taklukkan Konstantinopel belum sampai kepala tiga umurnya.Akan menjadi sejarah pemuda seperti apakah kita??

Dari tomcat kita belajar akan manfaat dan kerugian yang fitrahnya selalu beriringan. Mana yang ingin kita tonjolkan??

270312

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s