Menyoal Rambut Palsu hingga Kenaikan Harga BBM

Purbalingga (Jawa Tengah) merupakan kota industri yang namanya cukup bergengsi. Prestasinya sebagai kota terbesar kedua dunia dalam memproduksi rambut dan bulu mata palsu layak dibanggakan. Tak ayal, dukungan pemerintah mengalir lancar di kota Perwira ini.

Industri andalan Purbalingga yang telah berdiri sejak awal 1980-an ini diakui telah menembus pasar internasional. Negara sekelas Amerika dan negara lain di Eropa menjadi konsumen tetap rambut dan bulu mata palsu produksi Purbalingga. Persentase investasi yang disumbangkan pun tak main-main, 56,10% investasi industri se-Indonesia dengan nilai US$ 19.033.000 dari total US$ 21.985.000 dalam skala nasional (purbalinggakab.go.id).

Kebutuhan akan besarnya produksi rambut dan bulu mata palsu yang dihasilkan menghendaki besarnya jumlah tenaga kerja yang terlibat. Lebih dari dua puluh ribu masyarakat di Purbalingga dan sekitarnya (Banjarnegara, Purwokerto, Wonosobo, Banyumas) setiap hari bekerja di perusahaan pembuatan rambut dan bulu mata palsu yang merupakan investasi asing (Korea). Penyerapan tenaga kerja besar-besaran inilah yang patut diacungi jempol untuk pemerintahan daerah Purbalingga yang dipimpin oleh bupati Heru Sudjatmoko ini.

Namun, sebagaimana sebuah industri, tetap saja ada dampak negatif yang dibawanya. Secara langsung maupun tidak, para pekerja dan lingkungan sosial-fisik Purbalingga mendapat dampak negatif yang layak untuk diperhatikan.

Pertama, dari sisi kesehatan. Tak dapat dipungkiri, satu hal yang menjadi modal utama para pekerja pembuat rambut dan bulu mata palsu yakni mata. Dibutuhkan mata yang sehat dan mata yang memiliki ketahanan kuat untuk melakoni pekerjaan sebagai pembuat rambut palsu. Bayangkan saja, untuk memasukkan helai demi helai rambut ke dalam lubang sangatlah menuntut mata untuk berakomodasi keras. Masalah ini bisa memicu adanya gangguan mata seperti penurunan fungsi mata secara drastis (rabun jauh, dekat, maupun rabun ganda).

Dapat diprediksikan, lima hingga sepuluh tahun ke depan, banyak pekerja pembuat rambut palsu ini mengalami gangguan mata. Tidak ada jaminan dari perusahaan maupun pemerintah akan mata lantaran para pekerja tersebut hanyalah pekerja lepas (buruh). Hal ini bisa menjadi masalah besar bagi masyarakat eks pekerja. Akan terdapat biaya besar jangka panjang yang harus dikeluarkan untuk mengatasi masalah mata yang mengalami penurunan fungsi.

Kedua, masalah sosial. Seperti kita ketahui, untuk melamar menjadi pekerja di perusahaan rambut dan bulu mata palsu tidaklah sulit. Tidak ada persyaratan jenjang pendidikan maupun keterampilan khusus yang wajib dimiliki. Hal ini disebabkan oleh besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dari pihak perusahaan. Bahkan, lulusan sekolah menengah pertama (SMP) atau sekolah dasar (SD) sekalipun dengan mudah diterima.

Masalah terbesar yang patut untuk dikhawatirkan yakni terdapat dekadensi dalam minat pendidikan masyarakat Purbalingga dan sekitarnya. Asumsi bahwa tak perlu pendidikan tinggi untuk bisa mendapatkan uang telah menghinggapi sebagian besar masyarakat.

Ironi yang muncul kemudian yakni menurunnya kualitas sumber daya manusia di Purbalingga. Sekitar dua puluh dua ribu pekerja di perusahaan rambut palsu berusia di bawah tiga puluh lima tahun. Dan kebanyakan di antara mereka adalah wanita muda. Jika sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai buruh maka penurunan kualitas tersebut adalah hal yang sangat mungkin terjadi.

Dampak sosial adalah dampak terbanyak yang muncul akibat industri besar-besaran rambut dan bulu mata palsu ini. Para pekerja yang sebagian besar wanita setiap harinya harus pulang-pergi untuk mencari uang menghidupi keluarga. Pada sebagian besar keluarga pekerja, terdapat transisi peran keluarga. Wanita sebagai istri beralih peran menjadi penopang perekonomian keluarga. Memang, wanita menjadi prioritas pekerja yang diterima di perusahaan rambut palsu di Purbalingga.

Para pekerja dibagi ke dalam tiga shift; pagi, siang, dan malam. Kebanyakan wanita beroleh posisi di shift pagi dan siang. Jam usai shift siang adalah menjelang waktu maghrib. Pada jam tersebut, lalu lintas Purbalingga menjadi sangat padat. Sepeda-sepeda motor penjemput berjubel memenuhi parkiran depan pabrik pembuatan rambut palsu. Kendaraan-kendaraan umum juga menunggu penumpang sehingga jalanan menjadi penuh.

Hal lain yang menjadi efek negatif secara sosial juga turut menimpa para pekerja wanita. Banyak dari mereka yang pulang kerja hingga malam lantaran mengambil jatah lembur untuk mendapat tambahan pendapatan. Hal ini mampu memicu tindak kriminalitas. Wanita yang pulang ke rumah di atas pukul 22.00 menjadi hal yang rawan dari segi keamanan.

Ketiga, dampak lingkungan. Dalam sebuah penelitian yang diselenggarakan oleh Eni Susana, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro (2010), menyatakan bahwa limbah cair industri rambut palsu di Purbalingga belum memenuhi standar untuk dibuang ke badan air penerima. Artinya, kerusakan lingkungan jangka panjang akan dirasakan oleh masyarakat Purbalingga jika tidak ada tindakan preventif maupun represif dari pemerintah.

Berkaitan dengan judul artikel ini, terdapat kaitan yang erat terhadap isu kenaikan harga BBM dengan kehidupan para pekerja pembuat rambut palsu. Isu kenaikan harga BBM menjadi isu paling santer saat ini. hampir semua media menyorotinya. Seperti yang kita ketahui, naiknya harga BBM akan memicu kenaikan sejumlah barang, termasuk di dalamnya bahan pokok industri. Industri rambut dan bulu mata palsu pun demikian.

Meski tak banyak berhubungan secara langsung terhadap bahan bakar, proses pembuatan rambut dan bulu mata palsu ini tetap membutuhkan pendukung operasional industri seperti listrik. Naiknya harga BBM tidak menafikan memicu kenaikan tarif dasar listrik (TDL) negeri ini. Signifikansi perubahan harga operasional industri tentu akan berpengaruh pada perusahaan. Secara sistemik, dapat dimungkinkan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk mengurangi biaya produksi.

Memang, hal ini barulah sebuah praduga. Akan tetapi, praduga ini dikaitkan dengan dampak yang memang pernah terjadi saat krisis melanda negeri. Bisa dibayangkan, sebanyak dua puluh ribu pekerja yang kebanyakan adalah wanita terancam diberhentikan oleh perusahaan. Nasib keluarga yang menggantungkan kehidupannya pada mereka menjadi ikut terancam.

Baik pemerintah daerah Purbalingga maupun nasional perlu secara serius menimbang dan menuntaskan permasalahan ini. Hajat hidup orang banyak di Indonesia menjadi taruhan. Kenaikan harga BBM yang berefek sistemik hingga seantero negeri ini patut ditelaah dan segera dicarikan solusinya. Purbalingga sebagai kota industri sepantasnya menjadi kota kecil yang meneladankan industri sehat pada nasional maupun internasional.

Menjaga keberlanjutan usaha dan industri di Purbalingga tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah daerah Purbalingga saja. Industri rambut dan bulu mata palsu yang telah menginternasional ini menjadi alasan untuk Purbalingga mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat. Usaha menekan dampak fisik maupun sosial industri menjadi agenda wajib yang tidak hanya perlu dibahas dalam ruang diskusi anggota dewan namun lebih kepada aksi nyata perbaikan.

 

Sofistika Carevy Ediwindra

Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

240312

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s