Cahaya di Atas Cahaya

Sebuah Awalan

Awalnya saya sempat ragu untuk mengikuti lomba ini. Bukan karena saya malas menulis, tapi saya bingung ingin menuliskan apa untuk ajang IMSS ini. Akhirnya saya mantapkan hati untuk mengangkat tulisan kategori pertama, tentang aku dan LDK.

Saya membayangkan kisah-kisah yang masuk ke meja panitia IMSS tentang kategori ini pasti kebanyakan bercerita tentang kisah seru penulis dalam aktivitas di LDK. Atau mungkin jatuh bangun mereka berjuang di LDK. Inilah hal awal yang sempat membuat saya ragu. Apa yang akan saya ceritakan tentang LDK saya? Tapi, dengan niatan berbagi karena Allah, akan saya tuliskan di sini. Semoga dapat memetik hikmah di kisah kecil saya dan LDK.

Saya bersyukur dapat berkuliah di sini, di Sampoerna School of Education (SSE) Jakarta. Mungkin Anda belum tahu atau malah baru mendengar nama ini. Ya, dan mungkin di benak Anda bertanya, “Dari perusahaan rokok?”

Saya tidak akan menjawab itu semua. Hingga saat ini pun saya masih belum sepenuhnya percaya perkataan pihak marketing Sampoerna yang menyatakan bahwa sekolah ini tidak ada kaitannya dengan rokok Sampoerna. Ah, itu tidak penting. Satu niatan saya berkuliah di sini yakni mengurangi jumlah orang-orang yang lulus dari kampus ini dengan doktrin pemikiran mereka.

Saya lulus SMA pada tahun 2010. Pada waktu itu saya langsung berkuliah di STKS Bandung. Sedikit memflash back, dulu saya sangat bercita ingin masuk di kampus dengan suasana tarbiyah yang kuat. Saya rindu dengan kampus dengan serangkaian agenda kajian yang menguatkan. Saya ingin berkuliah di tempat saya bisa dibina dan membina (halaqah). Akan tetapi, Allah mengizinkan saya justru ke tempat ini, SSE. Tempat di mana saya temukan aneka pemikiran di dalamnya; liberal, sekuler, plural. Subhanallah, berulang kali saya memuji nama Allah.

Teringat ayat yang menakjubkan, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah : 216)

Saya selama setahun kulian di Bandung kemudian pindah ke SSE lantaran tes saya diterima. Resmilah saya menjadi mahasiswa SSE. Kami di SSE adalah mahasiswa penerima beasiswa. Kampus saya ini terletak di komplek Mulia Business Park, Pancoran, Jakarta Selatan. Baru terdapat 3 angkatan di kampus saya, tertua adalah mahasiswa 2009. Dan hanya terdapat 2 jurusan; pendidikan matematika dan pendidikan bahasa inggris. Saya berada di jurusan kedua.

Masuk ke kisah tentang LDK saya. LDK ini bernama SMILY (SSE Muslim Family). Jangan bandingkan dengan usia atau kiprah yang telah ditorehkan LDK seperti Salam UI atau Gamais ITB. Dari segi usia tentu terpaut jauh. Begitu pun dari sisi kuantitas. Akan tetapi, insya Allah tujuan dan orientasi kita sama, da’wah ilallah.

Awal saya memasuki kampus, saya sempat shock. Memang ada beberapa akhwat dan satu dua ikhwan di sini. Yang membuat saya sempat kaget adalah, hampir semua akhwat angkatan 2009 selalu memakai jaket ke kampus. Awalnya saya mengira karena di kampus udara dingin full AC. Tapi ternyata ada hal yang melatarbelakangi itu.

Dulu, semasa mereka (ikhwah angkatan 2009) berada di tahun pertama, ada sebuah permasalahan yang cukup heboh di kampus. Kampus kami yang menganut asas pluralism, khususnya di bidang agama, menghendaki adanya perayaan Natal yang dihadiri seluruh mahasiswa (termasuk Muslim). Tentu saja hal ini tidak bisa diterima. Maka untuk menghalau acara tersebut, agar teman-teman Muslim dapat terhindar, dibuatlah acara tandingan.

Momen Muharram menjadi jawabannya. Mereka menggelar dan mengundang mahasiswa muslim untuk menghadiri Muharraman tersebut. Walhasil, jumlah mahasiswa yang hadir di acara Natalan menjadi sedikit. Mahasiswa muslim yang menghadiri acara natalanlah yang justru mencerca perbuatan mereka dengan alasan tidak menghargai itu. Sejak saat itu, muncullah gesekan yang membuat, terutama akhwat jilbaber, dijauhi.

Nah, untuk mengubah citra itu, sedikit demi sedikit para akhwat 2009 memutuskan untuk mendekat dan merapat dengan mereka. Salah satu strategi yang diambil adalah dengan memakai jaket. Dikatakan, hal ini bisa sedikit memudahkan masuknya kita (akhwat) ke lingkungan mereka. Tentu saja para akhwat tidak melepas/mengubah rok menjadi celana.

Mengetahui kisah tersebut, saya menjadi getir. Di luar para kakak akhwat nampak bebas mengenakan jilbab yang berkibar. Namun di dalam kampus, seolah ada dinding yang menghalangi itu. Akan tetapi, saya tidak melakukan hal yang sama dengan mereka. Saya sempat mengumpulkan beberapa akhwat angkatan saya (2011) untuk menyatukan cara pandang. Kami memutuskan untuk tetap berani mengenakan jilbab tanpa menutupinya dengan jaket. Bismillah, selama kita memegang teguh yang haq, insya Allah dipermudah, demikian prinsip kami.

SMILY, LDK kami, belum memfasilitasi adanya halaqah. Untuk itulah, awal gerakan kami masihlah underground. Kajian rutin SMILY setiap hari Senin sore, menjadi andalan kami dalam upaya pencerdasan aqidah mahasiswa. Ya, dan di SMILY pun kental akan setiran pihak kampus. Jika bukan karena rahmat Allah dan perjuangan kakak-kakak, besar kemungkinan kajian ini akan diramaikan oleh para pembicara dari JIL (Jaringan Islam Liberal). Ya, pihak kampus saya ini memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh JIL.

Kampus kecil kami ini memang luar biasa. Mahasiswa di kampus ini barulah 278 siswa. Meski tergolong anyar, 3 tahun pertama, saya akui metode dan sistem pembelajarannya tidak kalah dengan kampus keguruan/pendidikan yang sudah tua berdiri. Orientasi pendidikannya sudah menginternasional. Jaringan, kualitas pembelajaran, dosen, tidaklah perlu diragukan. Ya, tentu ada konsekuensi di balik itu semua. Pembelajaran kami kering akan agama (tidak ada bahkan makul agama). Ditambah lagi, kami mesti menghadapi dosen-dosen yang meski berlatar belakang pendidikan sangat tinggi dan bagus namun memiliki pemikiran yang membuat blunder kami, entah liberal, plural, sekular, atau semuanya.

Friksi-friksi pergerakan sangat kental terasa. Mahasiswa di SSE disetting sedemikian rupa untuk memberikan porsi lebih pada kehidupan akademik kami. Memang, terdapat persyaratan untuk IP minimal bagi kami. Penugasan yang diberikan, untuk sebagian mahasiswa, membuat mereka terfokus dan melupakan pengembangan diri di bidang keorganisasian. Banyak mahasiswa apatis terhadap acara non akademik, termasuk penggalian ilmu agama.

Sangat sering dalam kajian rutin SMILY, terjadi perdebatan. Terdapat beberapa mahasiswa dan terkadang dosen yang mengambil perspektif dari sisi kepluralan mereka menyikapi suatu hal yang berkaitan dengan Islam. Saya sering khawatir. Takut, kalau-kalau pemikiran teman-teman semakin teracuni dan malah membuat mereka menghindar satu demi satu.

Namun, bismillah, tekad kami untuk terus berjuang di sini akan terus membara. Insya Allah, mulai tahun ajaran baru 2012 ini, akan kami mulai langkah pembinaan komperehensif pada mahasiswa baru, membentuk mentoring. Bismillah, meski dimulai dari sedikit namun kami yakin akan datangnya kemenangan Allah. Kami sangat yakin, dari tempat yang kering seperti SSE, akan lahir mujahid-mujahid da’wah yang kuat (qowiy).

Salut dan sangat bersyukur saya ditempatkan Allah di sini. Saya bertemu dengan pejuang yang luar biasa. Mereka yang berusaha mendapat kepercayaan dari sekitar dengan pembuktian akademik namun tetap bergerak di da’wah dan terus menyebarkan kebaikan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushshilat : 41)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

(At Taubah : 111)

Teringat pula sebuah ayat yang menginspirasi saya di Quran surat An Nur ayat 35, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Maka saya dan teman-teman di sini selalu berharap menjadi orang yang Allah kehendaki dibimbing kepada cahayaNya. Ya, inilah langkah awal meraih cahaya di atas cahaya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s