Koran by Heart

Menjadi penghapal Quran nampak sebagai hal yang berat bagi sebagian masyarakat. Jumlah ayat Quran sebanyak 6666 ayat hingga suratnya berjumlah 114 surat dan 30 juz terlihat sulit untuk mewujudkannya dalam hidup. Namun, Allah telah tunjukkan pada kita sebaliknya. Betapa banyak anak-anak di dunia ini yang menorehkan prestasi gemilang sebagai penghapal Quran di usia belia.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” Al Qamar : 17

Ayat itu telah Allah tetapkan dalam Quran sebanyak 6 kali dalam redaksi yang masing-masing sedikit berbeda. Empat kali ayat tersebut diulang (sama) pada surat Al Qamar, ayat 17, 22, 32, dan 40. Pengulangan ayat ini merupakan penekanan akan janji Allah bahwa Al Quran telah Allah mudahkan bagi kita, hambaNya, untuk dipelajari. Pilihannya adalah, maukah kita mempelajarinya atau tidak.

Koran by Heart merupakan cuplikan film pendek tentang bocah-bocah penghapal Quran yang berkesempatan mengikuti lomba International Holy Quran Competition. Ajang perlombaan bagi penghapal Quran sedunia ini digelar setahun sekali di Kairo setiap bulan Ramadhan.

Terdapat tiga tokoh sentral dalam film ini. Pertama, Nabiollah (10). Nabiollah berasal dari Tajikistan, Asia Tengah. Ia mendapat apresiasi terbaik dalam perlombaan oleh juri-juri yang luar biasa. Bayangkan, seorang bocah berusia 10 tahun, tak mengerti bahasa Arab, namun mampu mengikuti uji hapalan Quran dengan sangat baik.

Meski Nabiollah mendapat posisi juara ketiga, ialah satu-satunya peserta yang dipilih untuk mentasmi’ Quran di hadapan Presiden dalam Award Ceremony perlombaan tersebut. Nabiollah membuat salah satu juri besar dalam ajang tersebut menitikkan air mata haru. Ia mengagumi bocah kecil yang menghapal seluruh bacaan dengan sempurna. Nabiollah mengaku bahwa sebenarnya dia belum memahami benar bacaan tajwid maupun arti bacaan Quran. Tetapi ia mampu menghadirkan bacaan Quran dengan hati.

Kedua, Rifdha (10). Rifdha berasal dari Maldives. Ia mendapat posisi kedua dalam perlombaan tersebut. Rifdha merupakan siswi yang pandai dalam matematika dan sains. Nilainya selalu 100 untuk dua mata pelajaran tersebut. Dalam perlombaan, Rifdha membacakan Quran dengan sangat baik. Ia juga tak berbahasa Arab, namun diakui juri mampu membaca Quran dengan tajwid yang sempurna.

Sosok ketiga yakni Djamil (10). Djamil berasal dari Senegal. Di antara ketiga tokoh sentral tersebut, Djamil lah satu-satunya yang tidak didampingi orang tua saat perlombaan. Sebenarnya, Djamil tidak mendapat posisi juara pada perlombaan. Bahkan, Djamil menangis saat gilirannya berlomba. Ia kebingungan dan melakukan kesalahan dalam melantunkan Quran di hadapan juri. Namun, juri mengapresiasi Djamil dengan memberinya kesempatan untuk mentasmi’ bacaan di masjid besar di sana usai sholat berjamaah.

Koran by Heart mengisahkan pada kita keluarbiasaan anak-anak penghapal Quran. Kunci keberhasilan mereka yang ditonjolkan dalam film ini yakni terletak pada peran keluarga. Ayah sebagai teladan memiliki peranan besar menjadi motivator anak untuk menghapal Quran. Slide yang paling saya sukai yakni saat Djamil dan ayahnya berjalan berdua di pesisir pantai sembari mengasah hapalan Quran. Kedua orang tua lah yang menjadi pondasi terkuat mereka.

Kekuatan dukungan dari orang tua menjadi big power untuk melanggengkan cita-cita menjadikan anak sebagai Hafidz/ah. Tak perlu lagi di sini kita bahas keutamaan menjadi penghapal Quran. Koran by Heart menunjukkannya melalui penggalan kisah sederhana hidup ketiga anak ini.

Nabiollah tak pernah belajar pendidikan formal sebelumnya, namun ingatan hapalannya melekat kuat. Rifdha cerdas sains dan matematika, hingga Djamil yang bercita ingin menjadi imam besar lokal di negerinya seperti sang ayah. Ketiganya adalah mutiara yang kini tersebar di permukaan bumi.

Mereka dan kita, sama-sama memiliki 24 jam waktu seharinya. Sama-sama 7 hari dalam sepekan dan 12 bulan dalam setahun. Pembedanya yakni mereka optimalkan waktu dan potensi untuk mencapai Hafidz. Mereka kerahkan masa mudanya, luangnya, kecintaan, dan kegemarannya pada Al Quran. Merekalah generasi pewaris Quran, orang-orang yang Allah pilih untuk tetap menjaga orisinalitas Quran.

Saya, Anda, dan generasi di bawah kita nanti masih memiliki kesempatan. Azzam yang kuat, adalah satu dari sekian kunci yang harus kita miliki. Meski kini hapalan kita masih merangkak pada juz ‘Amma, meski masih terbata pada surat pendek di akhir Quran, tidaklah mengapa. Tetapkan cita menjadi Hafidz/Hafidzah lantaran itu sungguh mulia. Semoga kita mampu lahirkan generasi-generasi pewaris Quran. Mereka yang cerdas intelektual, peduli sosial, namun tetap menjadi da’I penghapal Quran.

110412

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s