One Day Writing Training with Izzatul Jannah

Izzatul Jannah? Itu loh, penulis hebat yang lahir dari rahim FLP dan kini pun mengetuai FLP pusat. Masih belum tau juga? Wah, ga gaul nih.

Izzatul Jannah merupakan nama asli dari Setiawati Intan Savitri. Di sini tidak akan dikupas tentang biodata beliau karena Sobat bisa melihatnya lewat Mbah Google. Nah, pada kesempatan ini, akan sama-sama kita lihat, dengar, dan rasakan (judul lagunya SO7), pengalaman penulis detraining khusus oleh Mba IJ.

Penulis mengikuti BPoSW Training. Apa itu BPSoW? Ia merupakan kependekan dari Balai Pustaka School of Writing. BPSoW merupakan wahana pencetak penulis aktif dan profesional yang kreatif, inspiratif, dan mencerahkan (nyontek di blog BPSoW).

Penulis dan tiga belas orang lain dari jajaran pelajar, mahasiswa, hingga post doktor dilatih secara spesial oleh beliau. Kenapa spesial? Pertama, karena beliau langsunglah yang turun tangan mentraining kita. Ketua FLP Pusat gitu loh?! Kedua, karena secara pribadi, saya mengakui kebonekkan saya di bidang fiksi. It means that, saya merasa terjebak (ke jalan yang benar) di ruangan itu untuk belajar hal yang sudah lama saya hindari, FIKSI.

Berbicara tentang fiksi, ya fiksi, beliau membrainstorming kita tentang 4 hal seputar fiksi. Pertama, manfaat fiksi. Fiksi merupakan refleksi diri. Sadar gak, saat kita membaca karya fiksi, nyata terasa kemudahan kita menangkap nilai dan amanat yang disampaikan penulis. Ya kan? Itu karena saat kita membaca karya fiksi, seolah kita sedang bercermin pada diri sendiri, merasai bahwa kitalah yang menjadi pelaku dalam cerita.

Fiksi diakui mampu menyeimbangkan otak manusia dan mengaktifkan sisi otak emosi kita. Selain itu, menulis fiksi itu menyembuhkan. Kalau statemen ini berasal dari Pak James Pennebaker, 1972. Lanjut lagi, menulis fiksi itu menjadi salah satu cara untuk kita menyelesaikan masalah (Diane Ketelle, 2004). Lebih kerennya, dengan menulis fiksi kita mampu memecah kebungkaman jurnalisme (Seno Gumira Aji Darma) dan mengembangkan diri (Royster, BJ., 2006).

Hmm, sedikit mengomentari pendapat para ahli di atas tentang menulis fiksi, sepenuhnya saya setuju. Namun, masih terasa ada sekat tembok tinggi dalam diri untuk mengiyakannya. “Fiksi itu sulit,” (kata saya saat materi ini disampaikan).

Beralih kehal kedua, tentang pengertian fiksi. Entah mengapa, segmen pembahasan tentang pengertian diletakkan setelah manfaat. Ya, saya berapologi bahwa ini adalah one way to attract us, cara untuk menarik perhatian kita. FIksi itu rekaan, khayalan (Nurgiantoro, 2005:2). Fiksi itu ilusi kenyataan dan kesan meyakinkan yang ditampilkan (entah redaksinya benar atau tidak). Dan melalui fiksi, kita bisa menciptakan dunia kita sendiri.

Hem, fiksi bagi saya khayal, benar. Dan memang, unik dan asyiknya fiksi saya akui di situ kita bisa menjadi raja di dunia kita sendiri. Kita bisa mensetting karakter, alur, dan akhir kisah yang kita persembahkan. Menarik.

Ketiga, tentang bentuk (form) dari fiksi. Dipaparkan, ada 3 form fiksi; cerpen, novel, dan novelet. Cerpen dan novel sudah umum kita dengarkan. Nah, untuk novelet, ia berasal dari bahasa Italia, novella, yang artinya sebuah barang kecil yang baru. Novelet berada di antara cerpen dan novel. Ia merupakan cerpen yang panjang sekaligus novel yang pendek. Tapi, bukan berarti novelet itu galau ya..

Disampaikan secara berulang oleh Mba IJ bahwa ide itu tiada yang orisinil. Semua pemikiran manusia merupakan turunan dari penciptaan Allah SWT. Yap, jadi, tak perlu takut ide kita merupakan plagiat dari ide orang lain. Sedikit saja muncul perbedaan di ide tulisan kita, itu sudah termasuk ide lain dalam dunia sastra.

Menulis, menulis, dan menulis. Hanya ada satu perbedaan antara kita dan penulis hebat. Mereka terus menulis, mempublikasikan di media-media, sementara kita hanya berkutat pada keinginan kita untuk menulis. “Aku ingin menjadi penulis. Titik.” So?

Mba IJ memberi wejangan pada penulis tentang sebuah hal sederhana namun fundamental bagi penulis. Ya, tulis dan tulislah semuanya. Bahkan ketika kita ingin berhenti dan merasa sudah stuck lantaran tak ada lagi ide yang menyusup, tetaplah menulis. Dicontohkan, bahkan saat kita tak tahu apa lagi yang ingin kita tulis, tulislah hal itu. “Saya tidak tahu apa lagi yang saya ingin tulis. Rasa-rasanya sudah semua daya dan ide saya keluarkan di tuts-tuts ini tapi nihil juga. Saya jadi teringat,,bla bla bla.” nah, jadi kan sebuah tulisan??

Masalah edit atau pangkas tulisan adalah urusan belakangan. Tulis dan tulislah terus. Bahkan saat kita lupa siapa orang yang quote-nya kita sadur. “Ya, menurut siapa ya, saya lupa pencetus teori ini. Menulis adalah bla bla bla. Saya sependapat dengan apa kata tokoh asal Inggris tersebut…” Benar??

Keempat, Mba IJ mengudarakan di seisi ruangan tentang prinsip dalam fiksi. Lihat dan dengar menjadi prinsip pertama dalam menulis fiksi. Ya, penulis menurut saya adalah orang yang paling peka. Kalau tidak peka, jangan harap bisa mendapat ide menulis. Selanjutnya, realitas juga bisa dijadikan referensi menulis. Hal ini langsung kami praktikkan. Kami diminta untuk membaca sebuah artikel berita di koran. Setelah itu, tebak. Dalam waktu 15 menit, sebuah tulisan bergenre fiksi harus lahir dari hasil bacaan berita kita. Wow!

Asyik memang. Aktivitas yang satu ini membuat saya memutar cara pandang saya. saat biasanya alis saya bertaut dan kening berkerut membaca berita di koran, saya kali ini menjadi senyum dan nyengir lantaran membayangkan ide fiksi yang muncul di kepala. Dan pada saat pembacaan hasil, Mba IJ membacakan cerpen lima belas menitnya berjudul Kloset. Kisah itu terinspirasi dari berita di suatu daerah yang warganya sengaja membangun kloset di tengah jalan sebagai wujud protes kepada pemerintah lantaran jalan di daerah tersebut urung dibenahi.

Subhanallah, saya menyaksikan langsung proses kreatif sebuah cerpen karya Izzatul Jannah. Barangkali jika cerpen sederhana namun menggelitik itu dilempar ke media, langsung deh dimuat..

Prinsip-prinsip lain dalam menulis fiksi yakni keharusan penulis memiliki buku kecil. Buku di sini direpresentasikan bukan hanya lembaran berbentuk buku. Namun lebih kepada catatan yang selalu menyertai hidup penulis. Ide itu centil menurut saya. Ia datang begitu saja pun pergi sekejapan mata. Oki (oleh karena itu), ikatlah ilmu dengan tulisan, kata Ali bin Abi Thalib.

Ada satu hal yang unik dalam presentasi prinsip menulis Mba IJ. Poin tersebut adalah tentang ‘bagaimana jika’. ‘Bagaimana jika’ adalah salah satu cara agar memunculkan kreativitas ide penulis dengan memposisikan penulis di sudut pandang suatu hal yang unik. ‘Bagaimana jika’ saya menjadi presiden saat banyak rakyat mendemo tentang BBM. ‘Bagaimana jika’ saya menjadi kertas contekan, saat UN berlangsung. Mau tidak mau, inspirasi tersebut akan meletup-letup di otak kita. Sebabkan kita menerawang dan sedikit tersenyum jika ada hal unik yang kita imajinasikan.

Yap, tiba di prinsip terakhir. Menulis dan menulislah. Sebelumnya, membaca juga menjadi prinsip penulis yang haram ditinggalkan. Mana bisa kita menuangkan air saat gelas kita kosong, ya gak? Nah, tak usah saya berbicara panjang lebar, saya tulis semua yang saya dapatkan di blog ini, penerbit paling ramah. Blog menjadi salah satu media yang sangat bersohib dengan penulis.

Akhir kata, usai training spesial yang memakan waktu 6 jam ini, sedikit mindset saya tentang menulis fiksi berubah. Ya, meski baru sedikit, tapi saya merasa tersentil dan tertantang untuk merambah dunia yang saya anggap kelabu ini. Ya, sejak kuliah saya banting setir. Bacaan saya sudah menuju ke bacaan literatur dan bergenre non fiksi. Saya pun hingga saat ini masih sangat belum pede menulis fiksi. Tapi, harus saya dan Anda coba. Karena bagi saya, sastra itu melembutkan jiwa.

Menulis yuk menulis…

NB : Saya baru sadar kalau Bu Intan Savitri itu adalah Mba Izzatul Jannah setelah berjam-jam lamanya bertatapan dan menerima ilmu dari beliau. Itu pun saya tahu dari teman sesama peserta. Kalau tahu dari awal, bakal saya SMS semua teman SMP di daerah yang dulu sama-sama menggandrungi karya beliau yang bejibun. Hiks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s